Cadel? Its Ok
Awalnya aku tidak menyadari akan kekurangan ku. Bukan aku sombong atau
gimana, tapi memang aku tidak sadar. Dan orang-orang di rumah pun ga pernah
bilang akan kekurangan ku yang satu ini. Mereka ga pernah tuh ngomong-ngomong
yang terkait itu. Ketika aku ngomong pun, mereka ga pernah protes ataupun komplen
gara-gara pelafalan yang ga jelas di setiap kata yang mempunyai unsur huruf
“r”. Orang di sekelilingku, biasanya menyebut nya dengan sebutan “cadel”.
Hellloooo, aku berasa punya gelar setelah mereka berkata seperti itu. Ya,
seperti yang tadi aku bilang, aku tuh ga nyadar akan hal itu. Aku kira
kemampuan ku melafalkan setiap huruf tidak ada masalah, baik-baik saja. Padahal
dan ternyata ada suatu anugerah yang belum tentu dimiliki oleh orang lain,
yaitu cadel.
****jeeeng jeeeng jeeeng****
Serasa menemukan mutiara dalam
lumpur.
“Ok, fine. Aku terima gelar dari kalian,
yaitu: cadel”. Dalam hati aku bergumam seperti itu. Tiap aku ngomong ada aja
yang komplen. Mereka menginginkan aku melafalkan huruf “r” dengan jelas. Itu
kan sama aja ngajak ribut. Kesel deh. Tapi ya berhubung aku sudah kebal dari
cercaan-cercaan seperti itu, jadi ya it’s ok! No problem. Berasa bangga banget ya aku kebal dari yang gitu.
Aku juga ga terlalu mempermasalahkan ejekan-
ejekan mereka. Toh, itu cuman
bercandaan biasa. Aku mengerti.
Nah, pas aku SMP saking perhatiannya temen
aku, dia nawarin privat belajar pelafalan huruf “r”. Aku yang denger nya ketawa
lah, apaan sih nih orang so so-an mau ngajarin gimana cara melafalkan huruf “r”
dengan benar dan baik. Iiih di satu sisi itu ngeselin, tapi di sisi lain dia
baik juga sampe mau ngajarin aku gitu. Padahal yang aku butuhkan satu itu
adalah orang yang mau ngajarin matematika yang rumitnya itu lebih rumit dari
nyebut huruf “r”. Dengan tegas aku
langsung jawab “ngga, ga mau. Privat apaan?pokonya ga mau (titik)”. Eeh, dia
malah nyerocos ngejelasin programnya itu. “dengerin ya, azkiya mar’atu
sholihah, temen ku yang ga bia nyebut “r”. Aku cuman diem aja pas dia ngomong gitu
soalnya ga dikasih kesempatan nyanggah. Semangatnya menggebu-gebu bagaikan
orang yang sedang orasi. “iya, jadi sesuai dengan analisis ku, bahwa yang
namanya orang ga bisa nyebut “r” itu, bisa diatasi dengan seringnya latihan
menyebutkan huruf “r”. Aku bengong aja ngeliatin dia. “kamu, ga percaya? Aku
tuh pengen kamu bisa nyebut “r”, maka dari itu aku akan mengajarkan mu setiap
hari bagaimana cara mlafalkan huruf “r”. jadi, mulai hari ini aku adalah guru
privat mu ya nak”. Aku hanya senyum sinis padanya setelah dia selesai
menyampaikan ceramah nya itu. Eeh, dia malah nyerocos lagi. “coba sebut nama kamu”.
Apa maksudnya coba aku suruh nyebutin nama ku sendiri? Emang aku amnesia? “azkiya”.
“Nama lengkap?” dia nanya lagi. “azkiya mar’atu sholihah” dengan dingin aku
menyebutnya. Dia langsung tersenyum, dan meminta aku mengulanginya lagi.
Pikiran ku langsung terkoneksi pada huruf “r” yang ada di nama lengkapku. Dan
aku langsung bersiap untuk mencari suatu benda yang layak untuk dilemparkan
padanya. Dia langsung membela diri dengan kata-kata seperti ini:
“kamu tuh nyebut nama sendiri aja
ga bisa, ga lancar. Makanya, belajar nyebut huruf “r” sama aku. Bisa itu karena
biasa Kiya. Jadi, kamu harus belajar latihan agar kamu lancar melafalkan huruf
“r”. Mulai besok ya kita latihan!”.
Mimpi apa aku semalam ya sampai-sampai
terjadi kejadian ini?biasa nya juga dia ngejek-ngejek aku, sehingga aku sudah
merasa kebal akan ucapan yang menyakitkan yang keluar dari mulutnya. Tapi
sekarang?dia berubah. Dia seperti pangeran berkuda putih yang akan
menyelamatkan putrinya. Aaah, berpikir apa aku ini? Aku mencoba menetralisir
perasaanku. Untuk menghentikan ocehan kawan ku yang bernama Muhammad Zaki
Mubarok ini, akhirnya aku mengiyakan semua ucapan yang keluar dari mulutnya. “Ok
deh Zaki terserah kamu, aku nyerah tak bisa berkata-kata lagi”. Dia hanya
tersenyum sambil manggut-manggut ga jelas mendengar ucapanku. Untungnya, aku
sudah terbiasa dengan sikapnya yang super duper aneh, jadi it’s ok, i’m fine.
Hari yang cerah dengan secerca harapan
hari ini lebih baik dari hari kemarin. Tiba-tiba, di pagi yang menyenangkan ini
tanpa diundang Zaki menghampiri ku yang sedang duduk di bangku ke dua. Secara
tiba-tiba, dan tanpa aba-aba bagaikan petir di siang hari dia duduk di depan ku.
Lalu, dia menoleh dan berkata : “ayo kita mulaiii!!!”. Aku merasakan stres yang
teramat berat melebihi stresnya anak-anak kelas tiga yang akan menghadapi UN
ketika dia mengajak ku latihan melafalkan huruf “r”. Tapi dia terus ngotot, dan
akhirnya terjadilah privat itu. Dia menjadi guru dan aku muridnya.
Dan bagaimana hasilnya??
Taaraaam.....”Nothing”. Hasilnya
ya tetep aja artikulasi huruf “r” nya ga jelas, sama seperti dulu. “Ok, Zaki
privat sudah selesai dan tidak ada hasilnya”. Aku berkata pada Zaki di kelas.
“iya, ya mungkin sudah suratan kamu, kiya”. Dia membalas pernyataan ku. “yeee,
dari dulu juga aku udah bilang, ga usah ada privat privat gitu. Toh, ya mungkin
sudah suratan. Dan aku juga ikhlas. Apa yang salah dengan cadel? Dengan cadel
juga ga ngaruh tuh sama hidup aku. Kan hidup kita juga udah diatur sama ALLAH.
Aku yakin ini yang terbaik, So, cadel?it’s ok!!. Zaki hanya tersenyum sambil
ngangguk-ngangguk, dan akhirnya dia ga
maksa-maksa lagi buat privat itu.
Yeee Merdeka! Sayonara privat
artikulasi huruf R
Setelah kami berbincang, bel pun berbunyi.
Guru kami yang bernama Ibrohim yang biasa kami panggil dengan nama “pa Ibro”
pun masuk kelas dan mulai mengajar. Di sela penjelasannya, Pa ibro mengulas
sedikit tentang orang yang cadel. Setelah kata cadel itu terucap dari mulut Pa
Ibro, semua matapun tertuju pada ku. Aku pun bereaksi sesewot-sewotnya sambil
menggerutu “apa liat-liat??”. Zaki tertawa terbahak-bahak sepertinya puas
sekali dengan kondisi ku yang sedang terpojokkan di kelas.
Kata-kata dari Pa Ibro ternyata membuat ku
terbang melayang menembus lapisan langit, tersenyum malu, dan...nanonano deh
rasanya. “Orang yang cadel itu sebenernya bagus lho. Mereka bisa mengucapkan
makhroj Ro dengan baik. Karena makhroj ro yang sebenarnya itu tidak terlalu
bergetar, jadi ya cara pengucapannya seperti orang cadel gitu. Dalam bahasa
Inggris juga pengucapan huruf “r” tidak terlalu jelas dan bagi orang cadel itu
tidak terlalu sulit dan tidak akan dibuat-buat”. Kata-kata itu seolah
menyelamatkanku dari keterpojokkan. Setelah mendengar kata-kata itu, aku
beerasa meraih kemenangan dan seakan aku bnagga menjadi orang cadel.
Sebelumnya, memang aku pernah mengeluh akan hal ini. Kenapa aku cadel? Ibu ku
salah makan apa ketika dia mengandung ku? Mungkin ibu ku salah ngasih makan
ketika aku balita?aku terus bertanya-tanya. Namun, seiring dengan berjalannya
waktu, pertanyaan-pertanyaan seperti itu mulai terkikis dari pikiran ku. Aku
sudah mulai menerima ketentuan ini. Kata-kata Pa ibro itu lebih menguatkan ku
lagi.
Melihat ku tersenyum-senyum sendiri
setelah pelajaran Pa Ibro selesai, Zaki pun menghampiri ku dan dia tersenyum
sambil berkata “Pasti inget kata-kata Pa Ibro tadi ya? Jadi senyum-senyum
sediri gitu. Cieee yang dipuji sama guru favorit. Makannya, dengerin tuh,
jangan ngeluh mulu”. ”yee orang aku ga ngeluh, kamu tuh suka mancing-mancing
aku buat ngeluh. Ngajak-ngajakin aku belajar artikulasi huruf “r” lah, apa itu
kalau bukan ngompor-ngomporin?wuuu”. aku menjawabnya Sambil memanyun-manyunkan
bibir ku. “iya, itu kan aku cuman ngetes kamu. Ya udah damai deh damai” dia
mengajak ku berdamai sambil memberikan permen loli cokelat. “jadi, ceritanya
nyogok nih??? Hmm, karena aku orang yang baik hati dan tidak sombong.
Perdamaian dan permen loli cokelat aku terima. “Piinteeer. Kiya baik deh. Coba
bilang “r” dulu”. Sambil membungkukan dirinya Zaki berkata seperti itu. Tanpa
menunggu aba-aba aku langung berteriak “ Zaaakiiiii”. Dan dia pun langsung
berlari keluar kelas seperti kelinci yang akan dikejar harimau.Aku pun ikut
berlari keluar kelas mengejarnya.