Sabtu, 02 November 2013

cerpen



Cadel? Its Ok
Awalnya aku tidak menyadari  akan kekurangan ku. Bukan aku sombong atau gimana, tapi memang aku tidak sadar. Dan orang-orang di rumah pun ga pernah bilang akan kekurangan ku yang satu ini. Mereka ga pernah tuh ngomong-ngomong yang terkait itu. Ketika aku ngomong pun, mereka ga pernah protes ataupun komplen gara-gara pelafalan yang ga jelas di setiap kata yang mempunyai unsur huruf “r”. Orang di sekelilingku, biasanya menyebut nya dengan sebutan “cadel”. Hellloooo, aku berasa punya gelar setelah mereka berkata seperti itu. Ya, seperti yang tadi aku bilang, aku tuh ga nyadar akan hal itu. Aku kira kemampuan ku melafalkan setiap huruf tidak ada masalah, baik-baik saja. Padahal dan ternyata ada suatu anugerah yang belum tentu dimiliki oleh orang lain, yaitu cadel.
****jeeeng jeeeng jeeeng****
Serasa menemukan mutiara dalam lumpur.
     “Ok, fine. Aku terima gelar dari kalian, yaitu: cadel”. Dalam hati aku bergumam seperti itu. Tiap aku ngomong ada aja yang komplen. Mereka menginginkan aku melafalkan huruf “r” dengan jelas. Itu kan sama aja ngajak ribut. Kesel deh. Tapi ya berhubung aku sudah kebal dari cercaan-cercaan seperti itu, jadi ya it’s ok! No problem. Berasa  bangga banget ya aku kebal dari yang gitu. Aku juga ga terlalu mempermasalahkan ejekan-

ejekan mereka. Toh, itu cuman bercandaan biasa. Aku mengerti.
     Nah, pas aku SMP saking perhatiannya temen aku, dia nawarin privat belajar pelafalan huruf “r”. Aku yang denger nya ketawa lah, apaan sih nih orang so so-an mau ngajarin gimana cara melafalkan huruf “r” dengan benar dan baik. Iiih di satu sisi itu ngeselin, tapi di sisi lain dia baik juga sampe mau ngajarin aku gitu. Padahal yang aku butuhkan satu itu adalah orang yang mau ngajarin matematika yang rumitnya itu lebih rumit dari nyebut huruf “r”. Dengan  tegas aku langsung jawab “ngga, ga mau. Privat apaan?pokonya ga mau (titik)”. Eeh, dia malah nyerocos ngejelasin programnya itu. “dengerin ya, azkiya mar’atu sholihah, temen ku yang ga bia nyebut “r”. Aku cuman diem aja pas dia ngomong gitu soalnya ga dikasih kesempatan nyanggah. Semangatnya menggebu-gebu bagaikan orang yang sedang orasi. “iya, jadi sesuai dengan analisis ku, bahwa yang namanya orang ga bisa nyebut “r” itu, bisa diatasi dengan seringnya latihan menyebutkan huruf “r”. Aku bengong aja ngeliatin dia. “kamu, ga percaya? Aku tuh pengen kamu bisa nyebut “r”, maka dari itu aku akan mengajarkan mu setiap hari bagaimana cara mlafalkan huruf “r”. jadi, mulai hari ini aku adalah guru privat mu ya nak”. Aku hanya senyum sinis padanya setelah dia selesai menyampaikan ceramah nya itu. Eeh, dia malah nyerocos lagi. “coba sebut nama kamu”. Apa maksudnya coba aku suruh nyebutin nama ku sendiri? Emang aku amnesia? “azkiya”. “Nama lengkap?” dia nanya lagi. “azkiya mar’atu sholihah” dengan dingin aku menyebutnya. Dia langsung tersenyum, dan meminta aku mengulanginya lagi. Pikiran ku langsung terkoneksi pada huruf “r” yang ada di nama lengkapku. Dan aku langsung bersiap untuk mencari suatu benda yang layak untuk dilemparkan padanya. Dia langsung membela diri dengan kata-kata seperti ini:
“kamu tuh nyebut nama sendiri aja ga bisa, ga lancar. Makanya, belajar nyebut huruf “r” sama aku. Bisa itu karena biasa Kiya. Jadi, kamu harus belajar latihan agar kamu lancar melafalkan huruf “r”. Mulai besok ya kita latihan!”.
     Mimpi apa aku semalam ya sampai-sampai terjadi kejadian ini?biasa nya juga dia ngejek-ngejek aku, sehingga aku sudah merasa kebal akan ucapan yang menyakitkan yang keluar dari mulutnya. Tapi sekarang?dia berubah. Dia seperti pangeran berkuda putih yang akan menyelamatkan putrinya. Aaah, berpikir apa aku ini? Aku mencoba menetralisir perasaanku. Untuk menghentikan ocehan kawan ku yang bernama Muhammad Zaki Mubarok ini, akhirnya aku mengiyakan semua ucapan yang keluar dari mulutnya. “Ok deh Zaki terserah kamu, aku nyerah tak bisa berkata-kata lagi”. Dia hanya tersenyum sambil manggut-manggut ga jelas mendengar ucapanku. Untungnya, aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang super duper aneh, jadi it’s ok, i’m fine.
     Hari yang cerah dengan secerca harapan hari ini lebih baik dari hari kemarin. Tiba-tiba, di pagi yang menyenangkan ini tanpa diundang Zaki menghampiri ku yang sedang duduk di bangku ke dua. Secara tiba-tiba, dan tanpa aba-aba bagaikan petir di siang hari dia duduk di depan ku. Lalu, dia menoleh dan berkata : “ayo kita mulaiii!!!”. Aku merasakan stres yang teramat berat melebihi stresnya anak-anak kelas tiga yang akan menghadapi UN ketika dia mengajak ku latihan melafalkan huruf “r”. Tapi dia terus ngotot, dan akhirnya terjadilah privat itu. Dia menjadi guru dan aku muridnya.
     Dan bagaimana hasilnya??
Taaraaam.....”Nothing”. Hasilnya ya tetep aja artikulasi huruf “r” nya ga jelas, sama seperti dulu. “Ok, Zaki privat sudah selesai dan tidak ada hasilnya”. Aku berkata pada Zaki di kelas. “iya, ya mungkin sudah suratan kamu, kiya”. Dia membalas pernyataan ku. “yeee, dari dulu juga aku udah bilang, ga usah ada privat privat gitu. Toh, ya mungkin sudah suratan. Dan aku juga ikhlas. Apa yang salah dengan cadel? Dengan cadel juga ga ngaruh tuh sama hidup aku. Kan hidup kita juga udah diatur sama ALLAH. Aku yakin ini yang terbaik, So, cadel?it’s ok!!. Zaki hanya tersenyum sambil ngangguk-ngangguk, dan akhirnya  dia ga maksa-maksa lagi buat privat itu.
Yeee Merdeka! Sayonara privat artikulasi huruf R
     Setelah kami berbincang, bel pun berbunyi. Guru kami yang bernama Ibrohim yang biasa kami panggil dengan nama “pa Ibro” pun masuk kelas dan mulai mengajar. Di sela penjelasannya, Pa ibro mengulas sedikit tentang orang yang cadel. Setelah kata cadel itu terucap dari mulut Pa Ibro, semua matapun tertuju pada ku. Aku pun bereaksi sesewot-sewotnya sambil menggerutu “apa liat-liat??”. Zaki tertawa terbahak-bahak sepertinya puas sekali dengan kondisi ku yang sedang terpojokkan di kelas.
     Kata-kata dari Pa Ibro ternyata membuat ku terbang melayang menembus lapisan langit, tersenyum malu, dan...nanonano deh rasanya. “Orang yang cadel itu sebenernya bagus lho. Mereka bisa mengucapkan makhroj Ro dengan baik. Karena makhroj ro yang sebenarnya itu tidak terlalu bergetar, jadi ya cara pengucapannya seperti orang cadel gitu. Dalam bahasa Inggris juga pengucapan huruf “r” tidak terlalu jelas dan bagi orang cadel itu tidak terlalu sulit dan tidak akan dibuat-buat”. Kata-kata itu seolah menyelamatkanku dari keterpojokkan. Setelah mendengar kata-kata itu, aku beerasa meraih kemenangan dan seakan aku bnagga menjadi orang cadel. Sebelumnya, memang aku pernah mengeluh akan hal ini. Kenapa aku cadel? Ibu ku salah makan apa ketika dia mengandung ku? Mungkin ibu ku salah ngasih makan ketika aku balita?aku terus bertanya-tanya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan seperti itu mulai terkikis dari pikiran ku. Aku sudah mulai menerima ketentuan ini. Kata-kata Pa ibro itu lebih menguatkan ku lagi.
     Melihat ku tersenyum-senyum sendiri setelah pelajaran Pa Ibro selesai, Zaki pun menghampiri ku dan dia tersenyum sambil berkata “Pasti inget kata-kata Pa Ibro tadi ya? Jadi senyum-senyum sediri gitu. Cieee yang dipuji sama guru favorit. Makannya, dengerin tuh, jangan ngeluh mulu”. ”yee orang aku ga ngeluh, kamu tuh suka mancing-mancing aku buat ngeluh. Ngajak-ngajakin aku belajar artikulasi huruf “r” lah, apa itu kalau bukan ngompor-ngomporin?wuuu”. aku menjawabnya Sambil memanyun-manyunkan bibir ku. “iya, itu kan aku cuman ngetes kamu. Ya udah damai deh damai” dia mengajak ku berdamai sambil memberikan permen loli cokelat. “jadi, ceritanya nyogok nih??? Hmm, karena aku orang yang baik hati dan tidak sombong. Perdamaian dan permen loli cokelat aku terima. “Piinteeer. Kiya baik deh. Coba bilang “r” dulu”. Sambil membungkukan dirinya Zaki berkata seperti itu. Tanpa menunggu aba-aba aku langung berteriak “ Zaaakiiiii”. Dan dia pun langsung berlari keluar kelas seperti kelinci yang akan dikejar harimau.Aku pun ikut berlari keluar kelas mengejarnya.

Minggu, 25 Agustus 2013

Hikmah


     
Manusia itu sama
     Manusia itu tidak ada yang sempurna. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Itu memang sudah fitrahnya, kawan. Banyak orang yang mengeluh karena kekurangan-kekurangan yang mereka bawa sejak lahir. Padahal jika kita renungkan, tak perlulah kita mengeluh karena kekurangan yang kita punya. Harusnya, kekurangan tersebut dijadikan motivasi agar kita menggali kelebihan-kelebihan yang ada dalam diri kita, sehingga kelebihan tersebut dapat menutupi kekurangan yang ada. Fenomena yang kita lihat di sekitar kita adalah ketika ada seseorang yang berbeda dari khalayak ramai tentunya itu akan menarik perhatian. Namun perhatian itu lebih bersifat negatif daripada positif. Misalnya, ada orang yang secara fisik berbeda dari yang lain biasanya celaan, cercaan akan datang menghampiri diri nya. Padahal jika kita telaah, ketika seseorang itu diejek oleh orang lain, orang yang diejek itu akan merasa terasingkan dari peradaban seakan dia hidup sendiri tak ada teman. Dia merasa dirinya berbeda, dan ujung nya dia akan mengeluh “kenapa saya terlahir berbeda?”
      Coba kita lihat dalam Al-Qur’an surat At-tin ayat 8 yang artinya:”sungguh kami telah menciptakan kalian dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Jadi, sudah jelas ya kawan, dalam Al-Quran dijelaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah dalam bentuk sebaik-baiknya. Coba kita bandingkan dengan makhluk Allah yang lainnya, misalnya hewan. Kita spesifik kan lagi deh jadi monyet. Bandingkan ya manusia dengan monyet, bentuk nya gimana? Bentuknya lebih baik manusia kan daripada monyet?hayyooo ngakuu hayyoo. Tentunya, dalam lubuk hati yang paling dalam, hati kita meronta-ronta, meraung-raung ingin mengucapkan “iya, lebih baik manusia, yyeee yeee”. Ini sudah terbukti tanpa harus diuji lagi bahwa memang manusia itu   tercipta sudah dalam bentuk yang sempurna, lebih baik dari makhluk-makhluk lainnya. Jadi, bagi kamu kamu yang merasa minder akibat kekurangan fisik. Buang jauh-jauh deh, pikiran itu. Kita sudah lebih baik dalam aspek fisik daripada makhluk lainnya. Dan dalam segi perilaku pun kita lebih baik daripada hewan jika menggunakan akal kita.
     Kenapa perilaku manusia dikatakan lebih baik jika menggunakan akal nya?
Mau tau?mau tau banget ata mau tau aja?ok, ok tenang. Jadi gini, manusia itu adalah makhuk yang sangat unik yang diciptakan oleh Allah. Manusia itu bisa jadi lebih mulia dari malaikat dan juga bisa jadi lebih hina dari hewan. Kenapa begitu? Dari tadi nanya mulu ya. Hhehehe . Manusia itu dianugerahi akal oleh Allah yang mana akal itu super duper waw deh. Dengan akal, manusia itu bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Jadi, ketika manusia menggunakan akal nya dalam berperilaku tentunya akan terbentuk lah manusia yang mulia karena dirinya tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah, dan menjalankan perintah Allah. Dan ketika manusia tidak menggunakan akal sebagaimana mestinya tentu akan terjadi suatu kejanggalan . Misalnya, harusnya dia berperilaku baik namun, karena akalnya tidak difungsikan dia malah berperilaku tidak baik sehingga menyebabkan akhlak yang terbentuk dalam dirinya akhlak yang madzmumah yang merugikan orang lain. Ini lah yang disebut lebih hina dari hewan.
     Allah juga menegaskan bahwa semua manusia itu sama di hadapan-Nya baik laki-laki maupun perempuan. Pokoknya, semua manusia itu sama di hadapan Allah yang membedakannya hanyalah ketaqwaannya. Tuuh, kalimat di atas mempertegas lagi bahwa kita tidak usah pusing memikirkan wajah yang kurang rupawan, karena yang membedakan kita di hadapan-Nya adalah ketaqwaan. Sebaiknya, kita sekarang senantiasa berusaha untuk meningkatkan ketaqwaan kita pada Allah.