Kamis, 08 Mei 2014

Efek asrama
  Ibu pernah bilang pas aku lahir itu berat badan ku hampir 4kg. Ibu aja pas ngelahirin aku susah soalnya aku nya terlalu besar. Intinya ketika lahir aku tuh gemuk. Entah sejak kapan aku berubah jadi kurus kerontang begini, dan entah karena apa aku diibaratkan lidi, yaa walaupun aku juga tidak terlalu tinggi. Yang aku inget sih, pas aku masuk SD juga aku udah kurus. Pas kelas berapa ya?? Kalau ga salah kelas 5 SD. Waktu itu kan ceritanya ada penimbangan berat badan gitu di sekolah, semua anak-anak ngantri untuk ditimbang. Termasuk aku. Dan hasilnya???? Berat badan ku  25kg. Entah aku harus bahagia atau sedih. Aku juga tidak tahu apakah angka 25 kg itu kekurusan atau normal-normal saja. Entahlah. Yang jelas waktu itu aku tahu berat badan ku ketika menjelang tahun-tahun terakhir di SD adalah 25kg.
     Banyak yang bilang kurus, yaa itu emang bener siiih. “Ibu, ko aku kurus siih?” “gimana ga kurus kamu tuh jarang makan nasi ” ibu teriak-teriak menjawab pertanyaan ku. Trus ibu ngomong lagi “kamu tuh ya makan cuman satu kali, apalagi dulu pas kecil ga mau makan nasi”. Aku sih santei aja nanggepin omongin ibu itu, udah sering sih jadi udah kebal. Hhahaha. Lagian itu cerita udah sering aku denger kalau aku lagi males makan, pasti aku diceramahin pake cerita itu. Kamu tuh dulu ga mau makan nasi, bla bla bla. Sambil komat-kamit ga jelas ngedengerin omelan ibu, aku matiin aja tv nya dan pindah lahan ke kamar ku tercinta. Malah katanya ya kalau aku mudik ke rumah kampung halaman, kakek tuh suka nanya-nanyain perkembangan ku. Aku kira perkembangan apa gitu, aku kira kakek suka nanyain aku udah bisa apa atau apa gitu, eeeeh ternyata pertanyaan yang sering dilontarkan kakek pada ibu adalah “najwa udah bisa makan nasi???”. Apa banget sih kakek, padahalkan dengan seiring berjalannya waktu aku  juga bakalan makan nasi. Mungkin pas aku kecil itu, aku lebih suka jajan ketimbang makan nasi, jadi gitu deh. Mungkin kalau kakek masih ada beliau bisa liat gimana aku makan nasi. Tenang aja ke, cucu mu disini sudah menjadikan nasi sebagai makanan pokoknya sehari-hari.
     Sampai akhirnya aku menginjak bangku SMP, dan tahu apa yang terjadi? Tetap saja akku berada dalam keadaan kurus kering kerontang. Mungkin aku kurang makan ya? Padahal orang tua ku gak terlalu kekurangan untuk ngasih aku makan. Padahal ibu aku badannya gede. Ya, walaupun katanya pas sebelum menikah ibu juga badannya kecil, sekarang aja badannya gede ga tau kenapa. Mungkin bahagia bisa punya anak seperti aku. Hahaha. Emang sih aku jarang makan, sukanya jajan, apapun itu yang penting jajan. Mungkin nanti aku akan mendapaptkan gelar miss jajan. *sepertinya itu berlebihan*. Dan ketika aku duduk di bangku SMP, guru olahraga ku adalah gurunya ibu ngaji. Jadi, bisa disimpulkan setidaknya ibu suka cerita tentang kebiasaan ku di rumah entah itu yang baik maupun yang buruk, dan sepertinya kebanyakan yang buruk, karena mungkin ibu bingung kalau harus nyeritain yang baik dari diriku, ya maklum lah yang keliatannya cuman yang jelek-jelek. Pas pelajaran olahraga, aku sempet diomeiin sama guru ku yang satu itu yang sepertinya sangat sayang padaku, karena beliau sering ngomelin aku. Ketika aku mengumpulkan tugas ke mejanya, tiba-tiba aku disemprot dengan kata-kata yang lumayan panjang, sehingga kata-kata itu susah untuk aku cerna, dan akhirnya malah aku keluarkan kata-kata itu dari telingaku. Oooow... maaf pak. Intinya, yang dapat aku cerna dari nasehat bapak guruku itu adalah :
1.      Najwa harus banyak makan, supaya kebutuhan makanannya terpenuhi.
2.      Najwa jangan bnayak jajan. Jajan sebanyak apapun akan susah membuat mu kenyang.
3.      Najwa harus banyak makan sayuran dan buah-buahan, supaya kebutuhan vitaminnya terpenuhi.
     Aku sih hanya menganggukkan kepalaku saat dinasehati oleh beliau. Tapi hasilnya??? “nothing”. Tetep aja kelakuan ku ga berubah, makan susah, jajan tak terlupakan, makan sayuran pikir-pikir dulu. Alhasil, tetep aja badan aku kurus.
     Sampai akhirnya aku tiba di masa putih abu-abu. Dan pada masa itu, aku tidak tinggal di rumah. Bukan karena aku diusir dari rumah, gara-gara aku nakal, bukan juga karena aku sudah tidak dianggap menjadi bagian dari keluargaku. Bukan karena itu. Kluarga harmonis, dan baik-baik saja. Sesuai dengan hasil rapat keluarga, bahwa aku akan bersekolah di tempat yang jauh dari rumah. dan hal itu mengakibatkan aku tidak mungkin lagi tinggal di rumah. Dan memang setiap siswa yang bersekolah disana, diwajibkan untuk tinggal di asrama yangtelah disediakan.
     Kurasa itu tidak terlalu buruk. Dan ternyata kehidupan di asrama sangat berbeda dengan kehidupan di rumah. di rumah aku bisa bersantai ria sambil menonton tv, ngemil seenaknya, masuk keluar kamar mandi semau-gue, dan banyak lagi kesenangan lainnya. Tapi, di asrama hal itu berubah. Tidak ada tv, tidak ada hp, berbagi kamar mandi dengan teman yang lain, dan makanan pun kita harus berbagi. Aku jadi menyadari betapa ni’matnya kehidupan rumah, yang bahkan aku tidak menyadari hal itu. Aku baru sadar, ketika aku merasakan tinggal di tempat lain.
     Seperti yang ku bilang, tinggal di asrama tidak terlalu buruk. Ada satu hikmah yang sangat aku rasakan ketika aku tinggal di asrama. Jika biasanya di rumah makanan selalu tersedia, dan bisa dimakan kapan saja. Tapi di asrama tidak. Aku selalu merasa lapar, dan ketika lapar, aku langsung mengambil jatah makan ku yang sudah disediakan untuk dua kali makan. yang biasanya aku makan hanya sekali, sekarang aku terbiasa makan dua kali sehari. Perubahan yang bagus. Dan hasilnya, taraaaaam berat badan ku naik. Hahhaha. Serasa memenangkan sebuah pertandingan. Ya, setidaknya badan ku tidak terlalu kurus kerontang seperti dulu. Orang-orang pun menyadari hal itu. Ketika aku pulang ke rumah, ayah dan ibu serta kakak-kakak ku bilang bahwa aku gemukan setelah tinggal di asrama. Hahaha. Bahkan saudara-saudara ku yang lain juga bilang hal yang serupa, ketika bertemu dengan ku. Haaah,efek asrama katanya begitu.


Kamis, 03 April 2014

Dingin

Kini dia berubah
Bagaikan air yang membeku
Berubah menjadi es
Es yang dingin dan keras
Entah apa yang terjadi?
Dulu dia sehangat wedang jahe
Sekarang dia menjadi es batu
Keras, beku tak mengalir tak hangat
Aku tak mengerti
Senyum nya kini telah tiada
Canda nya kini telah sirna
Hilang, ditelan bumi
Tak tersisa apapun
Sungguh mudahnya dia berubah
Berubah dalam sekejap mata
Tanpa ada angin dan hujan
Dan entah kapan ia akan kembali