Efek
asrama
Ibu pernah bilang pas aku lahir itu berat
badan ku hampir 4kg. Ibu aja pas ngelahirin aku susah soalnya aku nya terlalu
besar. Intinya ketika lahir aku tuh gemuk. Entah sejak kapan aku berubah jadi
kurus kerontang begini, dan entah karena apa aku diibaratkan lidi, yaa walaupun
aku juga tidak terlalu tinggi. Yang aku inget sih, pas aku masuk SD juga aku
udah kurus. Pas kelas berapa ya?? Kalau ga salah kelas 5 SD. Waktu itu kan
ceritanya ada penimbangan berat badan gitu di sekolah, semua anak-anak ngantri
untuk ditimbang. Termasuk aku. Dan hasilnya???? Berat badan ku 25kg. Entah aku harus bahagia atau sedih. Aku
juga tidak tahu apakah angka 25 kg itu kekurusan atau normal-normal saja.
Entahlah. Yang jelas waktu itu aku tahu berat badan ku ketika menjelang
tahun-tahun terakhir di SD adalah 25kg.
Banyak yang bilang kurus, yaa itu emang
bener siiih. “Ibu, ko aku kurus siih?” “gimana ga kurus kamu tuh jarang makan
nasi ” ibu teriak-teriak menjawab pertanyaan ku. Trus ibu ngomong lagi “kamu tuh
ya makan cuman satu kali, apalagi dulu pas kecil ga mau makan nasi”. Aku sih santei
aja nanggepin omongin ibu itu, udah sering sih jadi udah kebal. Hhahaha. Lagian
itu cerita udah sering aku denger kalau aku lagi males makan, pasti aku
diceramahin pake cerita itu. Kamu tuh dulu ga mau makan nasi, bla bla bla.
Sambil komat-kamit ga jelas ngedengerin omelan ibu, aku matiin aja tv nya dan
pindah lahan ke kamar ku tercinta. Malah katanya ya kalau aku mudik ke rumah
kampung halaman, kakek tuh suka nanya-nanyain perkembangan ku. Aku kira
perkembangan apa gitu, aku kira kakek suka nanyain aku udah bisa apa atau apa
gitu, eeeeh ternyata pertanyaan yang sering dilontarkan kakek pada ibu adalah
“najwa udah bisa makan nasi???”. Apa banget sih kakek, padahalkan dengan
seiring berjalannya waktu aku juga
bakalan makan nasi. Mungkin pas aku kecil itu, aku lebih suka jajan ketimbang
makan nasi, jadi gitu deh. Mungkin kalau kakek masih ada beliau bisa liat
gimana aku makan nasi. Tenang aja ke, cucu mu disini sudah menjadikan nasi
sebagai makanan pokoknya sehari-hari.
Sampai akhirnya aku menginjak bangku SMP,
dan tahu apa yang terjadi? Tetap saja akku berada dalam keadaan kurus kering
kerontang. Mungkin aku kurang makan ya? Padahal orang tua ku gak terlalu
kekurangan untuk ngasih aku makan. Padahal ibu aku badannya gede. Ya, walaupun
katanya pas sebelum menikah ibu juga badannya kecil, sekarang aja badannya gede
ga tau kenapa. Mungkin bahagia bisa punya anak seperti aku. Hahaha. Emang sih
aku jarang makan, sukanya jajan, apapun itu yang penting jajan. Mungkin nanti
aku akan mendapaptkan gelar miss jajan. *sepertinya itu berlebihan*. Dan ketika
aku duduk di bangku SMP, guru olahraga ku adalah gurunya ibu ngaji. Jadi, bisa
disimpulkan setidaknya ibu suka cerita tentang kebiasaan ku di rumah entah itu
yang baik maupun yang buruk, dan sepertinya kebanyakan yang buruk, karena
mungkin ibu bingung kalau harus nyeritain yang baik dari diriku, ya maklum lah
yang keliatannya cuman yang jelek-jelek. Pas pelajaran olahraga, aku sempet
diomeiin sama guru ku yang satu itu yang sepertinya sangat sayang padaku,
karena beliau sering ngomelin aku. Ketika aku mengumpulkan tugas ke mejanya,
tiba-tiba aku disemprot dengan kata-kata yang lumayan panjang, sehingga
kata-kata itu susah untuk aku cerna, dan akhirnya malah aku keluarkan kata-kata
itu dari telingaku. Oooow... maaf pak. Intinya, yang dapat aku cerna dari
nasehat bapak guruku itu adalah :
1.
Najwa harus
banyak makan, supaya kebutuhan makanannya terpenuhi.
2.
Najwa jangan
bnayak jajan. Jajan sebanyak apapun akan susah membuat mu kenyang.
3.
Najwa harus
banyak makan sayuran dan buah-buahan, supaya kebutuhan vitaminnya terpenuhi.
Aku sih hanya menganggukkan kepalaku saat
dinasehati oleh beliau. Tapi hasilnya??? “nothing”. Tetep aja kelakuan ku ga
berubah, makan susah, jajan tak terlupakan, makan sayuran pikir-pikir dulu.
Alhasil, tetep aja badan aku kurus.
Sampai akhirnya aku tiba di masa putih
abu-abu. Dan pada masa itu, aku tidak tinggal di rumah. Bukan karena aku diusir
dari rumah, gara-gara aku nakal, bukan juga karena aku sudah tidak dianggap
menjadi bagian dari keluargaku. Bukan karena itu. Kluarga harmonis, dan
baik-baik saja. Sesuai dengan hasil rapat keluarga, bahwa aku akan bersekolah
di tempat yang jauh dari rumah. dan hal itu mengakibatkan aku tidak mungkin
lagi tinggal di rumah. Dan memang setiap siswa yang bersekolah disana,
diwajibkan untuk tinggal di asrama yangtelah disediakan.
Kurasa itu tidak terlalu buruk. Dan
ternyata kehidupan di asrama sangat berbeda dengan kehidupan di rumah. di rumah
aku bisa bersantai ria sambil menonton tv, ngemil seenaknya, masuk keluar kamar
mandi semau-gue, dan banyak lagi kesenangan lainnya. Tapi, di asrama hal itu
berubah. Tidak ada tv, tidak ada hp, berbagi kamar mandi dengan teman yang
lain, dan makanan pun kita harus berbagi. Aku jadi menyadari betapa ni’matnya
kehidupan rumah, yang bahkan aku tidak menyadari hal itu. Aku baru sadar,
ketika aku merasakan tinggal di tempat lain.
Seperti yang ku bilang, tinggal di asrama
tidak terlalu buruk. Ada satu hikmah yang sangat aku rasakan ketika aku tinggal
di asrama. Jika biasanya di rumah makanan selalu tersedia, dan bisa dimakan
kapan saja. Tapi di asrama tidak. Aku selalu merasa lapar, dan ketika lapar,
aku langsung mengambil jatah makan ku yang sudah disediakan untuk dua kali
makan. yang biasanya aku makan hanya sekali, sekarang aku terbiasa makan dua
kali sehari. Perubahan yang bagus. Dan hasilnya, taraaaaam berat badan ku naik.
Hahhaha. Serasa memenangkan sebuah pertandingan. Ya, setidaknya badan ku tidak
terlalu kurus kerontang seperti dulu. Orang-orang pun menyadari hal itu. Ketika
aku pulang ke rumah, ayah dan ibu serta kakak-kakak ku bilang bahwa aku gemukan
setelah tinggal di asrama. Hahaha. Bahkan saudara-saudara ku yang lain juga
bilang hal yang serupa, ketika bertemu dengan ku. Haaah,efek asrama katanya
begitu.