Uang bersolasiban
“heeeeeyyy, ada yang mau bayar pulsa????”
teriak ku ke setiap kamar di asrama Al-Wafa. Tidak semua kamar aku kunjungi, aku hanya mengunjungi
kamar-kamar yang penghuninya memiliki hutang pulsa padaku. Hahaha. Malam itu, yang jadi target operasi ku adalah
kamar aisyah, ruqayah, halimah, dan fatmah. Bersiaplah para penghuni
kamar-kamar tersebut, kalian akan dikunjungi bandar pulsa seperti aku.
Hahahaha. Aku melangkahkan kaki ku ke kamar aisyah yang tepat berada disamping
kamarku. Seperti biasa, aku pun menanyakan orang yang ku tuju, tapi sayangnya
dia tidak ada. aku pun melanjutkan perjalanan ku ke kamar ruqayah, dan ternyata
orang yang bersangkutan sudah tidur. aku tidak boleh patah semangat dalam
melakukan target operasi kali ini. dan taret selanjutnya adalah kamar halimah.
Orang yang bersangkutan ada, dan dia juga merespon baik akan kedatanganku ke
kamarnya. Akhirnyaaaa, ada yang mau bayar juga. yeaaah.
Dia pun mengeluarkan uang lembaran senilai
10.000. dengan cekatan aku menyambar uang itu, dan segera memeriksa dompetku mencari uang untuk kembalian.
Ahaaaa, ketemu. Eh, tunggu, kurang gope ternyata. Aku menyerahkan uang selembar
bernilai 2.000, dan uang receh 500 sebanyak dua koin, sambil berkata “eh, ini
kurang gope kembaliannya. Nanti yaaa!!!”. Dia segera mengambil uang kembalian
tersebut, tanpa berkata apa-apa. Dia
terus bercakap-cakap dengan orang i seberang telepon sana. Tak lama kemudian, sebelum aku meninggalkan
kamar halimah, ia pun merengek memanggilku. Dia tidak mau menerima uang
lembaran 2.000 tersebut. Kebingungan pun muncul, ketika ia berskap seperti itu.
“kembaliannya nanti aja, aku ga mau uang kaya gitu”. Semaki n bingung, dan aneh
aku melihat sikapnya yang seperti itu. Sambil menilik-niliki uang tersebut, aku
pun bertanya “maksudnya apa? kalau kamu tidak mau uang seperti ini, lantas kamu
menginginkan uang seperti apa? receh? Uang seribuan? Atau bagaimana?” aku
mencercanya dengan pernyataan seperti itu. dia masih setia dengan handphone
yang ditempelkan ke telinganya,”aku ga mau uang kaya gitu. Ga mau pokonya”.
“terus kamu mau uang kaya gimana?” tanya ku dengan sedikit kesal. “aku ga mau
uang itu, ada solasibannya. Pengen yang biasa aja. Kalau uang yang kaya gitu,
susah. Nanti aja, kalau udah ada ke sini lagi” rengeknya kembali padaku. Mendengar penjelasannya tersebut, aku
langsung memperhatikan uang tersebut. Ya, memang uangnya *sedikit kucel, lecek,
dan bersolasiban. Aku hanya bisa menghel
nafas sambil pergi meninggalkan kamar tersebut.
Aku
masih tak habis pikir, kenapa harus mempermasalahkan uang yang sudah kucel,
lecek, kotor, jelek, dan bersolasiban? Toh nilainya sama seperti uang yang
lain, walaupun penampilannya tidak seindah yang lain. Toh dengan uang seperti
itu, kita juga akan mendapatkan barang yang senilai dengan uang tersebut ko.
Entahlah, mungkin dia orang yang sangat rapi, sampai memperhatikan uang
kembalian yang ia dapatkan dari orang lain. Dan aku adalah kebalikan dari orang
tersebut, yang tidak memperhatikan sampai hal sekecil itu. dengan mudahnya aku
meberikan uang lecek, kucel, dan bersolasiban itu kepada orang yang tidak suka
menerimanya.huuuuh. yang harus aku lakukan sekarang adalah mencari uang
pengganti uang kucel, lecek, bersolasibant ersebut dengan uang yang sangat
sedap dipandang.