Selasa, 31 Maret 2015

Uang bersolasiban
 “heeeeeyyy, ada yang mau bayar pulsa????” teriak ku ke setiap kamar di asrama Al-Wafa. Tidak semua kamar  aku kunjungi, aku hanya mengunjungi kamar-kamar yang penghuninya memiliki hutang pulsa padaku. Hahaha.  Malam itu, yang jadi target operasi ku adalah kamar aisyah, ruqayah, halimah, dan fatmah. Bersiaplah para penghuni kamar-kamar tersebut, kalian akan dikunjungi bandar pulsa seperti aku. Hahahaha. Aku melangkahkan kaki ku ke kamar aisyah yang tepat berada disamping kamarku. Seperti biasa, aku pun menanyakan orang yang ku tuju, tapi sayangnya dia tidak ada. aku pun melanjutkan perjalanan ku ke kamar ruqayah, dan ternyata orang yang bersangkutan sudah tidur. aku tidak boleh patah semangat dalam melakukan target operasi kali ini. dan taret selanjutnya adalah kamar halimah. Orang yang bersangkutan ada, dan dia juga merespon baik akan kedatanganku ke kamarnya. Akhirnyaaaa, ada yang mau bayar juga. yeaaah.
     Dia pun mengeluarkan uang lembaran senilai 10.000. dengan cekatan aku menyambar uang itu, dan segera memeriksa  dompetku mencari uang untuk kembalian. Ahaaaa, ketemu. Eh, tunggu, kurang gope ternyata. Aku menyerahkan uang selembar bernilai 2.000, dan uang receh 500 sebanyak dua koin, sambil berkata “eh, ini kurang gope kembaliannya. Nanti yaaa!!!”. Dia segera mengambil uang kembalian tersebut, tanpa berkata apa-apa.  Dia terus bercakap-cakap dengan orang i seberang telepon sana.  Tak lama kemudian, sebelum aku meninggalkan kamar halimah, ia pun merengek memanggilku. Dia tidak mau menerima uang lembaran 2.000 tersebut. Kebingungan pun muncul, ketika ia berskap seperti itu. “kembaliannya nanti aja, aku ga mau uang kaya gitu”. Semaki n bingung, dan aneh aku melihat sikapnya yang seperti itu. Sambil menilik-niliki uang tersebut, aku pun bertanya “maksudnya apa? kalau kamu tidak mau uang seperti ini, lantas kamu menginginkan uang seperti apa? receh? Uang seribuan? Atau bagaimana?” aku mencercanya dengan pernyataan seperti itu. dia masih setia dengan handphone yang ditempelkan ke telinganya,”aku ga mau uang kaya gitu. Ga mau pokonya”. “terus kamu mau uang kaya gimana?” tanya ku dengan sedikit kesal. “aku ga mau uang itu, ada solasibannya. Pengen yang biasa aja. Kalau uang yang kaya gitu, susah. Nanti aja, kalau udah ada ke sini lagi” rengeknya kembali padaku.  Mendengar penjelasannya tersebut, aku langsung memperhatikan uang tersebut. Ya, memang uangnya *sedikit kucel, lecek, dan bersolasiban.  Aku hanya bisa menghel nafas sambil pergi meninggalkan kamar tersebut. 

     Aku masih tak habis pikir, kenapa harus mempermasalahkan uang yang sudah kucel, lecek, kotor, jelek, dan bersolasiban? Toh nilainya sama seperti uang yang lain, walaupun penampilannya tidak seindah yang lain. Toh dengan uang seperti itu, kita juga akan mendapatkan barang yang senilai dengan uang tersebut ko. Entahlah, mungkin dia orang yang sangat rapi, sampai memperhatikan uang kembalian yang ia dapatkan dari orang lain. Dan aku adalah kebalikan dari orang tersebut, yang tidak memperhatikan sampai hal sekecil itu. dengan mudahnya aku meberikan uang lecek, kucel, dan bersolasiban itu kepada orang yang tidak suka menerimanya.huuuuh. yang harus aku lakukan sekarang adalah mencari uang pengganti uang kucel, lecek, bersolasibant ersebut dengan uang yang sangat sedap dipandang.