Terlantarnya kaos kaki
Ketenangan ku sedikit terusik dengan adanya sepasang kaos kaki yang berada tepat di hadapan ku. kala itu,
aku baru saja pulang kuliah, dan sejenak menenangkan hati dan pikiran ku yang
sedang panas, akibat tuntutan akademik. Ya, begitulah, namanya juga mahasiswa,
memang sudah seperti itu hukum alamnya. Tapi, pikiranku kembali terusik dengan
melihat sepasang kaos kaki di hadapan ku. Aku hanya bisa menghela nafas. Aku
juga tidak tahu siapa pemiliki kaos kaki ini yang tega menelantarkannya,
sehingga lemah tak berdaya, dan hanya terbujur kaku di hadapanku.
Aku tinggal di asrama bersama dengan puluhan orang lainnya yang awalnya
kami tidak saling mengenal, namun sekarang , kalian tau apa yang terjadi? Kami
jadi akrab satu sama lain, dan sudah tidak ada kata canggung lagi di antara
kami. Ya, semua ini karena interaksi yang terus menerus, dan akhirnya kami jadi
dekat. Aku menempati kamar sa’diyah dengan 4 orang lainnya sebagai penghuni
kamar yang mungil ini. Aku harus terbiasa hidup dengan berbagai macam karakter
orang di kamar ini. Ya, itulah konsekuensi tinggal di asrama. Tapi, aku
menikmatinya. Hanya saja, kadang aku sedikit kesal dengan tingkah laku mereka
yang tidak membuat ku nyaman, seperti halnya dengan sepasang kos kaki ini.
Aku memang tidak tahu siapa pemilik dari kaos kaki ini, tapi satu fakta
yang aku yakini kebenarannya adalah “pemiliknya pasti penghuni kamar sa’diyah”.
Ya, jelas saja aku berpikiran seperti itu, mana mungkin penghuni kamar sebelah
yang menelantarkan kaoskakinya di sini?. Dan kecurigaan ku jatuh kepada Mila
dan Rifta. Kenapa begitu? Aku akan menjelaskannya dalam poin-poin berikut:
1. Kamar sa’diyah dihuni oleh 5 orang, yaitu Asih,
Lani, Mila, Rifta, dan aku.
2. Pelaku kejadian ini bukan aku, karena aku yang
merasa dirugikan dalam kasus ini.
3. Pada saat kejadian kaos kaki terlantar, Lani
sedang pulang alias tidak ada di asrama. Jadi bukan dia pelakunya.
4. Asih bukan orang yang senang memakai kaos kaki,
jelas ini bukan miliknya, dan dia bukan pelakunya.
5. Yang dicurigai dalam kasus ini adalah Mila dan
Rifta, karena mereka adalah tipe orang yang sering menggeletakan barangnya
dimana saja, sesuka hati mereka, termasuk kaos kaki ini.
Dari ke lima poin tersebut, yang jadi
pertanyaannya siapakah pemilik kaos kaki ini? apakah Mila atau Rifta? Ok, kita
akan menulusurinya lebih lanjut.
Mila dan Rifta merupakan tipe orang yang sama, mereka banyak memiliki
kesamaan. Dan aku menyebut mereka dengan sebutan “si kembar”. Oleh karena itu,
sulit untuk menentukan apakah pelakunya Mila atau Rifta? Keduanya memiliki
peluang 50:50. Aaah rasanya suliit. Aku terus mencari jawaban dari kasus ini,
dan aku menyimpulkan bahwa aku harus menunggu sampai esok pagi, dan melihat dengan mata kepalaku
sendiri “siapa yang memakai kaos kaki tersebut??”. Aku harus sedikit bersabar
untuk mendapatkan jawaban yang akurat dari kasus ini.
“Tepat pada hari ini, aku akan menyaksikan siapa yang memakai kaos kaki
tersebut. Dan saat itu pula aku mengetahui siapa dalang dari semuanya”. Itulah
yang terbesit di benakku, saat orang lain sibuk mempersiapkan diri untuk
berangkat kuliah. Dengan seksama, aku memperhatikan sekitar. Dan, aku melihat
dengan mata kepalaku sendiri orang yang memakai kaos kaki tersebut. Kalian tahu
siapa pelakunya? Ya,seperti yang ku duga, Mila memakai kaos kaki yang
tergeletak sembarangan. “dasar mila sang biang keladi” kataku dalam hati.
Setelah dia memakai kaos kaki tersebut, dia pun berpamitan pada kami dan
berangkat kuliah.
Namun, ada suatu kejanggalan yang kurasakan. Mila sudah memakai kaos kaki tersebut, tapi
kenapa di pojokan masih ada kaos kaki? Tak lama kemudian, Rifta memakai kaos
kaki tersebut dan berangkat kuliah. Ternyataaaaa, kaos kaki yang terlantar itu
ada 2 pasang. Dan kaos kaki tersebut, masing-masing punya Mila dan Rifta. Ok, I
know it. Ternyata, mereka berdua memang sama saja, sebelas dua belas ibaratnya.
Dan, aku tahu dalang dari kasus ini adalah “si kembar” Mila dan Rifta.