Minggu, 05 April 2015

Terlantarnya kaos kaki
    Ketenangan ku sedikit terusik dengan adanya sepasang kaos kaki  yang berada tepat di hadapan ku. kala itu, aku baru saja pulang kuliah, dan sejenak menenangkan hati dan pikiran ku yang sedang panas, akibat tuntutan akademik. Ya, begitulah, namanya juga mahasiswa, memang sudah seperti itu hukum alamnya. Tapi, pikiranku kembali terusik dengan melihat sepasang kaos kaki di hadapan ku. Aku hanya bisa menghela nafas. Aku juga tidak tahu siapa pemiliki kaos kaki ini yang tega menelantarkannya, sehingga lemah tak berdaya, dan hanya terbujur kaku di hadapanku.
     Aku tinggal di asrama bersama dengan puluhan orang lainnya yang awalnya kami tidak saling mengenal, namun sekarang , kalian tau apa yang terjadi? Kami jadi akrab satu sama lain, dan sudah tidak ada kata canggung lagi di antara kami. Ya, semua ini karena interaksi yang terus menerus, dan akhirnya kami jadi dekat. Aku menempati kamar sa’diyah dengan 4 orang lainnya sebagai penghuni kamar yang mungil ini. Aku harus terbiasa hidup dengan berbagai macam karakter orang di kamar ini. Ya, itulah konsekuensi tinggal di asrama. Tapi, aku menikmatinya. Hanya saja, kadang aku sedikit kesal dengan tingkah laku mereka yang tidak membuat ku nyaman, seperti halnya dengan sepasang kos kaki ini.
      Aku memang tidak tahu siapa pemilik dari kaos kaki ini, tapi satu fakta yang aku yakini kebenarannya adalah “pemiliknya pasti penghuni kamar sa’diyah”. Ya, jelas saja aku berpikiran seperti itu, mana mungkin penghuni kamar sebelah yang menelantarkan kaoskakinya di sini?. Dan kecurigaan ku jatuh kepada Mila dan Rifta. Kenapa begitu? Aku akan menjelaskannya dalam poin-poin berikut:
1.    Kamar sa’diyah dihuni oleh 5 orang, yaitu Asih, Lani, Mila, Rifta, dan aku.
2.    Pelaku kejadian ini bukan aku, karena aku yang merasa dirugikan dalam kasus ini.
3.    Pada saat kejadian kaos kaki terlantar, Lani sedang pulang alias tidak ada di asrama. Jadi bukan dia pelakunya.
4.    Asih bukan orang yang senang memakai kaos kaki, jelas ini bukan miliknya, dan dia bukan pelakunya.
5.    Yang dicurigai dalam kasus ini adalah Mila dan Rifta, karena mereka adalah tipe orang yang sering menggeletakan barangnya dimana saja, sesuka hati mereka, termasuk kaos kaki ini.
Dari ke lima poin tersebut, yang jadi pertanyaannya siapakah pemilik kaos kaki ini? apakah Mila atau Rifta? Ok, kita akan menulusurinya lebih lanjut.
      Mila dan Rifta merupakan tipe orang yang sama, mereka banyak memiliki kesamaan. Dan aku menyebut mereka dengan sebutan “si kembar”. Oleh karena itu, sulit untuk menentukan apakah pelakunya Mila atau Rifta? Keduanya memiliki peluang 50:50. Aaah rasanya suliit. Aku terus mencari jawaban dari kasus ini, dan aku menyimpulkan bahwa aku harus menunggu sampai  esok pagi, dan melihat dengan mata kepalaku sendiri “siapa yang memakai kaos kaki tersebut??”. Aku harus sedikit bersabar untuk mendapatkan jawaban yang akurat dari kasus ini.
     “Tepat pada hari ini, aku akan menyaksikan siapa yang memakai kaos kaki tersebut. Dan saat itu pula aku mengetahui siapa dalang dari semuanya”. Itulah yang terbesit di benakku, saat orang lain sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah. Dengan seksama, aku memperhatikan sekitar. Dan, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri orang yang memakai kaos kaki tersebut. Kalian tahu siapa pelakunya? Ya,seperti yang ku duga, Mila memakai kaos kaki yang tergeletak sembarangan. “dasar mila sang biang keladi” kataku dalam hati. Setelah dia memakai kaos kaki tersebut, dia pun berpamitan pada kami dan berangkat kuliah.

    Namun, ada suatu kejanggalan yang kurasakan.  Mila sudah memakai kaos kaki tersebut, tapi kenapa di pojokan masih ada kaos kaki? Tak lama kemudian, Rifta memakai kaos kaki tersebut dan berangkat kuliah. Ternyataaaaa, kaos kaki yang terlantar itu ada 2 pasang. Dan kaos kaki tersebut, masing-masing punya Mila dan Rifta. Ok, I know it. Ternyata, mereka berdua memang sama saja, sebelas dua belas ibaratnya. Dan, aku tahu dalang dari kasus ini adalah “si kembar” Mila dan Rifta.