Ketika santri
makan mie instan…
Mungin
kalian akan berpikir apa uniknya santri ketika makan mie? Toh biasa saja,
sama-sama pake tangan. Eeeiiitts, tunggu dulu. Memang, pada dasarnya sama saja.
Tapi, kondisi yang dialami para santri, akan membuat sensasi yang berbeda ketika mereka makan mie. Penasaran? Ok,
don’t go anywhere. Akan ku bawa kalian untuk mengintip para santri makan mie…
1.
Makan mie seperti orang normal lainnya
Seperti
orang normal lainnya yang memakan mie dengan keadaan normal pula. Para santri
juga pernah merasakannya. Kalian tahu lah bagaimana makan mie yang normal yang
sering dilakukan orang-orang.
Pertama-tama, tentu lah mie nya dimasak terlebih
dahulu. Kemudian, sajikan di atas piring atau mangkok (sesuai kebutuhan). Dan,
siap untuk dimakan seperti di bawah ini
2.
Tidak adanya piring, mangkok, dan teman-temannya yang
lain, menyebabkan para santri rela makan mie seperti ini. Katanya sih biar kaya
orang korea. Padahal itu hanya ALASAN
Karena tak adanya peralatan dapur yang lengkap,
alhasil makan mie pun harus di tempat seperti ini.
“eeiihh, kita mah kaya orang korea, makannya langsung
di panci.
Hahaha.”
Ah, jangan percaya dengan statement sperti itu. Kalian
tentu sudah tahu, itu hanya ALASAN semata. Intinya sih, ga ada lagi tempat
makan yang bisa untuk dipakai.
3.
Bermodalkan air panas dan mie, para santri ini
langsung dapat menikmati mie dengan lahap. Tak perlu kompor untuk memasak
Tak
adanya kompor, tak menjadikan para santri resah untuk menikmati enaknya mie
instan. Bermodalkan mie dengan air panas, mereka dapat memasak mie tersebut
dengan caranya sendiri. Do you want to know it?
Pertama, pastikan kamu punya mie instan dan air panas
sebagai modal awal
Setelah itu, buka bungkus mie nya, pastikan kamu
membukanya dengan benar. Kamu cukup membuka bagian atas nya saja.
Kemudian, masukkan air panas ke dalam bungkus mie yang
telah dibuka. Untuk mempercepat proses pemasakan mie, tutup rapat bungkus mie
dengan apapun yang ada. Bisa karet, jepitan, atau apapun yang tersedia di
sekitarmu.
Dan, tunggu beberapa menit, masukkan bumbu, dan
tadaaa… mie pun siap untuk
dimakan. Kamu dapat menghidangkannya di atas piring atau mangkok jika tidak
ingin memakan mie langsung dari bungkusnya. Makan mie langsung dari bungkusnya
akan memberikan sensasi yang berbeda dari biasanya. so, tentukan selera mu,
kawan!!!
4. Tak ada air panas? Tak masalah. Para santri masih dapat
menyajikan mie enak
Caranya Tak jauh beda dengan memasak menggunakan air
panas. Hanya saja, mie di remukkan terlebih dahulu dan masukkan ke dalam wadah,
kemudian siram dengan air dingin secukupnya, dan jangan lupa masukkan bumbu.
Aduk-aduk, dan jadiii. Dengan sensasi air dingin, kamu akan merasakan mie yang
masih kriuk-kriuk. Oh
ya, jika kalian pencinta rasa pedas, bisa juga menambahkan cabai untuk tambahan
bumbunya. cara seperti ini dikenal dengan sebutan "BEROK". ingat, BEROK. bukan BERAK yaaaa...
5.
Mix and match rasa mie instan. Rasa apapun dapat
dicampur-campur, yang penting isinya jadi banyak
Para
santri tak hanya punya keahlian dalam mix and match pakaian, tapi rasa makanan
pun dapat mereka campur-campur sesuka mereka.
“masak mie yuuuu”
“ayoooo, lapar nih”
“aku ada rasa ayam bawang”
“aku ada rasa soto”
“aku ada rasa kari”
“ok, kita satuin semuanya!!!”
Tak peduli dengan brand dan rasa yang berbeda, dengan
cekatan mereka mencampurkan semua rasa yang ada, sehingga terciptalah rasa baru
yang memanjakan lidah. Bagi mereka yang terpenting adalah “banyaknya” dan juga
“kebersamaannya”.
6.
Beli baso, tapi mie nya bawa sendiri. So, ga perlu
repot masak mie instan
“bang, beli bakso. Mie nya ini ya bang” sambil
menyodorkan mie pada abang tukang bakso.
Saat mereka malas untuk masak mie, tapi ingin
memanjakan lidahnya dengan enaknya mie, mereka tak akan tinggal diam. Pergi ke
tukang bakso adalah salah satu solusinya. Para santri ini sudah biasa membei
bakso dengan membawa mie nya sendiri yang mereka punya. Selain untuk berhemat,
mereka pun tak perlu repot untuk memasak mie. Kan, ada abang tukang bakso.
7.
Mie instan tanpa dimasak sudah biasa bagi para santri
Tanpa perlu dimasak terlebih dahulu, mie instan tetap
bisa dinikmati oleh para santri dengan caranya sendiri. Tak perlu di masak, tak
perlu ditambah air, ataupun dimasakin abang tukang bakso, mie instan
kriuk-kriuk menjadi pilihan para santri untuk mengganjal perutnya. Hanya dengan
meremukkan mie instan dan mencampurkan
semua bumbu yang ada, voilllaaa, mie kriuk-kriuk siap disajikan.
Kondisi lah
yang membedakan para santri dengan orang-orang di luaran sana ketika makan mie.
Dengan berbagai kondisi yang dialaminya, para santri mencoba beradaptasi agar
dapat menikmati lezatnya mie instan. Kondisi ini pulalah yang mengajarkan
mereka untuk mencoba ikhlas menerima setiap keadaan yang ada dengan tak lupa
untuk tetap berusaha.








