Dibalik
Cerita Horor
Cerita
horor memang selalu menarik untuk dibahas. Cerita ini dikonsumsi oleh
anak-anak, remaja, dan juga orang dewasa. Cerita horor ini seolah tak pandang
bulu dalam memillih target sasarannya. Alhasil, hampir setiap kalangan pernah
mengonsumsi cerita horor ini. Sekalipun orang itu mengatakan dia tidak percaya
akan hal-hal seperti itu, tetap saja dia pernah setidaknya mendengarkan cerita
berbau horor yang berada di sekitarnya. Anak-anak saja sudah mengenal
cerita-cerita berbau horor. Misalnya saja ketika mereka bermain dengan teman
sebayanya, dan mereka dengan asyiknya bercuap-cuap, pasti pernah terbesit
obrolan ke arah cerita horor. Entahlah anak-anak ini tahu dari mana. Bisa jadi,
ia pernah mendengar orang-orang di sekitarnya menceritakan hal itu, entah itu
keluarganya, ataupun teman-temannya. Ya, atau juga dia pernah menyaksikan
tontonan-tontonan yang berbau horor. Wuuuuuh.
Di kalangan anak-anak saja, cerita horor
ini sudah menempati posisi tertentu, apa kabarnya dengan para remaja yang
notabene sering dicap labil dan terkesan “alay”. Para remaja sangat senang jika
sudah berkumpul alias nangkring dengan teman-temannya. Ya, obrolannya seputar
pacaran, gebetan, sekolah, sinetron, artis idola, bahkan cerita horor pun masuk
ke dalam daftar obrolan mereka. Memang pada dasarnya, para remaja ini
mengobrolkan berbagai jenis topik
obrolan dalam kehidupan mereka. entah mengapa cerita horor pun telah mengambil
jatah tempat dari sebagian obrolan anak muda ini.
Tak heran, ketika ada program siaran radio
setiap malam jumat yang menyiarkan cerita-cerita horor, disambut dengan tepuk
tangan meriah oleh para remaja. Mereka rela menunggu dan menunda jam tidur
mereka untuk mendengarkan siaran tersebut. Siaran yang berisi kumpulan cerita
horor yang diceritakan dengan gaya yang khas, dan dengan musik yang khas pula.
Setiap pekan, siaran ini rutin disiarkan alias tak pernah libur. Cerita horor yang disjikan biasanya bejrumlah
3cerita dengan latar yangberbeda. Dan di setiap siarannya, selalu ada
peringatan untuk tidak mendengarkan siaran tersebut sendirian. SENDIRIAN.
SENDIRIAN. SENDIRIAN. Entah lah, apakah udah ada yang pernah mencoba
mendengarkan siaran ini sendirian atau belum. Aku sendiri belum pernah
mendengarkan siaran ini sendirian, dan aku belumpernah mendengar cerita yagn
mendengarkan siaran ini sendirian.
Biasanya, para remaja yang mendengarkan
siaran ini, dengan setia rela menanti dan menunda jam tidurnya untuk acara ini.
Walaupun acara ini disiarkan tepat pada malam jumat pada jam-jam yang sudah
sepi pula, sekitar jam setengah 11. Jam setengah 11 sudah termasuk jam malam
bagi para remaja. Malam jumat sebagai malam yang dikenal dengan kehororannya
menambah keseruan para remaja untuk mendengarkan siaran ini. Di tengah sepinya
malam jumat, adrenalin mereka merasa tertantang untuk mendengarkan siaran
tersebut. Semakin malam, maka semakin menantang. Begitulah kira-kira.
Para remaja biasanya akan mendengarkan
siaran tersebut secara kolektif, paling dikit tuh 2 orang, dan maksimal
sebanyak-banyaknya. Makin banyak yang dengerin bareng-bareng makin seru
dengerinnya. Entah itu, karena mereka takut atau juga karena mereka menyukai
kebersamaan. Karena, bersama itu lebih baik, sekaligus ngurangin rasa takut
juga deh kayanya. Makin banyakan yang ngedengerin, seolah-seolah rasa takut itu
dibagi-bagi, dan kita cuman kebagian sedikit dari rasa takut itu, kalau
orangnya banyakan. Maka dari itu, lebih banyak lebih baik, karena rasa takut
akan berkurang. Ya, walaupun yang dengerin semuanya orang penakut atau sebagian
besar penakut. Tapi ya, kalau dengerinnya bareng-bareng, seolah-olah rasa takut
itu bisa di bagi rata, dan mengurangi beban takut kita.
Entah lah, para remaja ini, entah memang
mereka sangat menyukai kebersamaan, atau mungkin mereka tidak berani untuk
mendengarkannya sendirian. Entahlah. Tapi, yang jelas, bersama-sama itu jauh
lebih baik. Seolah-olah beban kita dibagi, dipukul rata dengan semua teman yang
ada, sehingga kita tidak merasa sendiri, dan bahkan beban terasa berkurang.
Aaaiiiiih. Ini berlaku untuk semua rasa ya, tak hanya untuk rasa takut saja,
bahkan rasa sedih pun dengan bersama-sama bisa berkurang juga lho. Dan untuk
rasa bahagia, bukan berkurang ya, melainkan bertambah. Ya, itu lah ni’matnya
berbagi.
Untuk para remaja yang senang berkumpul dengan temannya di
malam hari, tentu bisa melakukan hal ini. Lain halnya dengan golongan remaja
yang lain dimana mereka pada malam hari harus selalu ada di rumah alias tidak
boleh keluyuran. Ya, untuk kasus para remaja yang mendengarkan siaran tersebut
secara bekolektif dimungkinkan jika mereka ada dalam satu ruang tinggal yang
sama, misalnya seasrama, satu kostan, atau mungkin lagi acara nginep-nginep
ria. Dan untuk yang tidak melakukan hal itu, atau yang hanya bisa mendengarkan
di rumah tanpa ditemani teman sepermainan, biasanya mereka akan meminta saudara
mereka untuk menemaninya. Misalnya, kakaknya atau sepupunya. tapi kayanya
mereka ga nyampe minta ditemenin mama papa nya. Kalau hal itu terjadi, ya
siap-siap aja dapat ceramah gratis . Tak heran kalau yang diandalkan selalu
saudara mereka. Ya, mungkin karena mereka umurnya tidak terlalu jauh dengan
selera yang tidak terlalu jauh pula. Alhasil, ngeklop deh ngedengerin siaran
yang begitu bareng-bareng.
Ya, begitu lah para remaja yang menyukai
hal-hal baru dan ingin mencoba hal baru
tersebut dalam hidupnya, baik itu secara personal maupun kolektif.