Jumat, 29 Mei 2015

Dibalik Cerita Horor
    Cerita horor memang selalu menarik untuk dibahas. Cerita ini dikonsumsi oleh anak-anak, remaja, dan juga orang dewasa. Cerita horor ini seolah tak pandang bulu dalam memillih target sasarannya. Alhasil, hampir setiap kalangan pernah mengonsumsi cerita horor ini. Sekalipun orang itu mengatakan dia tidak percaya akan hal-hal seperti itu, tetap saja dia pernah setidaknya mendengarkan cerita berbau horor yang berada di sekitarnya. Anak-anak saja sudah mengenal cerita-cerita berbau horor. Misalnya saja ketika mereka bermain dengan teman sebayanya, dan mereka dengan asyiknya bercuap-cuap, pasti pernah terbesit obrolan ke arah cerita horor. Entahlah anak-anak ini tahu dari mana. Bisa jadi, ia pernah mendengar orang-orang di sekitarnya menceritakan hal itu, entah itu keluarganya, ataupun teman-temannya. Ya, atau juga dia pernah menyaksikan tontonan-tontonan yang berbau horor. Wuuuuuh.
      Di kalangan anak-anak saja, cerita horor ini sudah menempati posisi tertentu, apa kabarnya dengan para remaja yang notabene sering dicap labil dan terkesan “alay”. Para remaja sangat senang jika sudah berkumpul alias nangkring dengan teman-temannya. Ya, obrolannya seputar pacaran, gebetan, sekolah, sinetron, artis idola, bahkan cerita horor pun masuk ke dalam daftar obrolan mereka. Memang pada dasarnya, para remaja ini mengobrolkan berbagai jenis  topik obrolan dalam kehidupan mereka. entah mengapa cerita horor pun telah mengambil jatah tempat dari sebagian obrolan anak muda ini.
     Tak heran, ketika ada program siaran radio setiap malam jumat yang menyiarkan cerita-cerita horor, disambut dengan tepuk tangan meriah oleh para remaja. Mereka rela menunggu dan menunda jam tidur mereka untuk mendengarkan siaran tersebut. Siaran yang berisi kumpulan cerita horor yang diceritakan dengan gaya yang khas, dan dengan musik yang khas pula. Setiap pekan, siaran ini rutin disiarkan alias tak pernah libur.  Cerita horor yang disjikan biasanya bejrumlah 3cerita dengan latar yangberbeda. Dan di setiap siarannya, selalu ada peringatan untuk tidak mendengarkan siaran tersebut sendirian. SENDIRIAN. SENDIRIAN. SENDIRIAN. Entah lah, apakah udah ada yang pernah mencoba mendengarkan siaran ini sendirian atau belum. Aku sendiri belum pernah mendengarkan siaran ini sendirian, dan aku belumpernah mendengar cerita yagn mendengarkan siaran ini sendirian.
      Biasanya, para remaja yang mendengarkan siaran ini, dengan setia rela menanti dan menunda jam tidurnya untuk acara ini. Walaupun acara ini disiarkan tepat pada malam jumat pada jam-jam yang sudah sepi pula, sekitar jam setengah 11. Jam setengah 11 sudah termasuk jam malam bagi para remaja. Malam jumat sebagai malam yang dikenal dengan kehororannya menambah keseruan para remaja untuk mendengarkan siaran ini. Di tengah sepinya malam jumat, adrenalin mereka merasa tertantang untuk mendengarkan siaran tersebut. Semakin malam, maka semakin menantang. Begitulah kira-kira.
      Para remaja biasanya akan mendengarkan siaran tersebut secara kolektif, paling dikit tuh 2 orang, dan maksimal sebanyak-banyaknya. Makin banyak yang dengerin bareng-bareng makin seru dengerinnya. Entah itu, karena mereka takut atau juga karena mereka menyukai kebersamaan. Karena, bersama itu lebih baik, sekaligus ngurangin rasa takut juga deh kayanya. Makin banyakan yang ngedengerin, seolah-seolah rasa takut itu dibagi-bagi, dan kita cuman kebagian sedikit dari rasa takut itu, kalau orangnya banyakan. Maka dari itu, lebih banyak lebih baik, karena rasa takut akan berkurang. Ya, walaupun yang dengerin semuanya orang penakut atau sebagian besar penakut. Tapi ya, kalau dengerinnya bareng-bareng, seolah-olah rasa takut itu bisa di bagi rata, dan mengurangi beban takut kita.
      Entah lah, para remaja ini, entah memang mereka sangat menyukai kebersamaan, atau mungkin mereka tidak berani untuk mendengarkannya sendirian. Entahlah. Tapi, yang jelas, bersama-sama itu jauh lebih baik. Seolah-olah beban kita dibagi, dipukul rata dengan semua teman yang ada, sehingga kita tidak merasa sendiri, dan bahkan beban terasa berkurang. Aaaiiiiih. Ini berlaku untuk semua rasa ya, tak hanya untuk rasa takut saja, bahkan rasa sedih pun dengan bersama-sama bisa berkurang juga lho. Dan untuk rasa bahagia, bukan berkurang ya, melainkan bertambah. Ya, itu lah ni’matnya berbagi.
      Untuk para remaja  yang senang berkumpul dengan temannya di malam hari, tentu bisa melakukan hal ini. Lain halnya dengan golongan remaja yang lain dimana mereka pada malam hari harus selalu ada di rumah alias tidak boleh keluyuran. Ya, untuk kasus para remaja yang mendengarkan siaran tersebut secara bekolektif dimungkinkan jika mereka ada dalam satu ruang tinggal yang sama, misalnya seasrama, satu kostan, atau mungkin lagi acara nginep-nginep ria. Dan untuk yang tidak melakukan hal itu, atau yang hanya bisa mendengarkan di rumah tanpa ditemani teman sepermainan, biasanya mereka akan meminta saudara mereka untuk menemaninya. Misalnya, kakaknya atau sepupunya. tapi kayanya mereka ga nyampe minta ditemenin mama papa nya. Kalau hal itu terjadi, ya siap-siap aja dapat ceramah gratis . Tak heran kalau yang diandalkan selalu saudara mereka. Ya, mungkin karena mereka umurnya tidak terlalu jauh dengan selera yang tidak terlalu jauh pula. Alhasil, ngeklop deh ngedengerin siaran yang begitu bareng-bareng.

     Ya, begitu lah para remaja yang menyukai hal-hal baru dan ingin mencoba hal baru  tersebut dalam hidupnya, baik itu secara personal maupun kolektif. 

Selasa, 12 Mei 2015

Error moment
“Hari ini tanggal 7 ya?” tanya ku dalam hati pada diriku sendiri. waaaaaah, hari ini hari ulang tahun ku ternyata.  “sanah helwah, yay. Barakallah.....!!!!” . aku masih melihat diriku sendiri di cermin. Aku pun tersenyum. “21 ya??? Udah kaya bioskop aja” kataku sambil tertawa. Untungnya, teman-teman di kamar ku masih tidur pulas, Mungkin mereka sedang bermimpi menjelajahi dunia, menyebrangi sungai-sungai, melewati gunung, berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lainnya. Padahal,  kenyataannya mereka sedang  membuat pulau kepunyaan mereka sendiri alias ngiler. Ok, lupakan mereka yang pulaunya sudah kian meluas saja. Aku kembali pada diriku di depan cermin yang diapit oleh dua jendela di kamar sa’diyah. Aku kembali tersenyum. “21 tahun yang lalu, ibuku melahirkan ku dengan penuh perjuangan. 21 tahun yang lalu, ayah ku juga turut berjuang dalam proses kelahiran ku. 21 tahun yang lalu, semua kakak-kakak ku turut disibukkan dengan proses kelahiran ku. 21 tahun yang lalu, keluarga ku larut dalam kecemasan, kesedihan, keharuan, dan kebahagiaan menyammbut kedatangan ku ke dunia ini. aku yang tak mengerti apa-apa waktu itu, hanya bisa menangis. Ibu, ayah, kakak, dan keluarga ku yang lain tersenyum merekah sabil meneteskan air mata”. Ya, kira-kira seperti itu lah aku membayangkan kondisi keluarga di kala menyambut kelahiranku. Walaupun aku juga ga tau sih persis nya kaya gimana. Tapi, ya asumsikan saja seperti itu. akku kembali termenung, sambil melihat diriku di cermin. “21 tahun yay, 21 meeeen. Tua banget deh. Rasanya baru kemarin masuk kuliah, terus baru kemarin kemarinnya lagi masuk SMA, terus baru kemarin kemarin kemarinnya lagi masuk SMP, dan rasanya baru kemarin kemarin kemarin kemarinnya lagi masuk SD”. Duh, kebanyakan kemarinnya,pusing deh. Hehehe. ini kan lagi momen sedih muhasabah diri, malah kaya gini.
       “21 tahun, bukan waktu yang sebentar, tapiiiiiii belum banyak yang bisa ku lakukan” kataku sambil mengehela nafas. Kulihat jam di atas  cermin sudah menunjukkan pukul 03.30, aku pun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. #beerasa rajin. Padahal biasanya ke kamar mamndi jam segitu cuman buat pipis doang, terus tidur lagi. Tapi hari ini, rasa malas harus dilawan sekuat tenaga. Di kamar, teman-teman ku masih belum bergerak. Aku pun segera menggelar sajadah panjang, kemudian aku mulai mengucapkan “allahu akbar”. Sudah lama aku tidak mencurahkan semua unek-unek ku pada waktu seperti ini. aku mulai mengingat satu persatu kejadian yang pernah kualami dalam perjalanan hidup ku selama 21 tahun ini. walaupun tidak semua kejadian diingat dengan baik oleh ku, tapi ku coba untuk mengambil hikmah dari semua kejadian yang telah kualami. Sedih, senang, memalukan, menyebalkan,  dan banyak varian rasa lainnya.
      Ya Allah, maaf kan hamba Mu ini yang selalu melupakan mu, mengingatmu hanya di kala aku terpuruk dan tidak ada orang yang mau berbagi pundaknya untuk membantu ku melawan segala keterpurukan hiidup.  begitu banyak ni’mat yang Kau beri, tapi aku tidak sadar dan mendustakan ni’mat itu. maaf kan aku ya Allah... aku selalu menuntut agar segala kbeutuhan hidup ku terpenuhi bahkan lebih , tapi jarang sekali aku memperhatikan kewajiban yang seharusnya aku penuhi terlebih dahulu. Ibu, maafkan anak mu ini yang selalu menganggap mu bawel, cerewet, dan selalu mengatur. Padahal aku tahu, itu semua demi kebaikan ku. itu semua kau lakukan karena kau menyayangiku. Ayah, maafkan anak mu ini yang selalu menganggap mu galak, penuh dengan aturan, dan otoriter. Padahal aku tahu, semua yang kau lakukan semata-mata hanya karena kau peduli dan ingin menjaga ku agar kelak nanti aku tumbuh menjadi  wanita yang baik. Dengan status “anak bungsu” yang aku sandang, aku selalu bepikir bahwa aku selalu dieksploitasi oleh semua kakak ku. padahal, betapa aku selalu mengganggu mereka, sehingga waktu mereka tersita untuk menjaga ku ketika ayah dan ibu tak ada. untuk semua teman ku, maaf kan lah teman mu ini yang cuek, tak peduli, tapi sering merepotkan kalian dan meminta perhatian lebih dari kalian.
      Terima kasih ya Allah atas semua ni’mat yang Kau berikan pada Ku. walaupun terkadang aku sering mendustakannya. Terima kasih ya Allah, aku dilahirkan dan tumbuh besar dalam keluarga yang selalu mengajari dan mengingatkan ku untuk selalu mengingat Mu. keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan 5 orang kakak.  Terima kasih untuk ayah  yang selalu berjuang keras untuk mencari nafkah,  dan menjadi imam yang  baik bagi keluarga kami. Begitupun dengan ibu, yang selalu berusaha  menjadi ibu yang baik dalam merawat dan membesarkan kami dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. 5 orang kakak dengan sifat dan karakter yang berbeda-beda, tapi mereka dengan ikhlasnya membagi  apa saja yang mereka punya untuk ku. terima kasih juga untuk semua teman ku, yang dengan kuat masih dapat bertahan dengan segala kekurangan dan kelebihan ku. terima kasih, kalian telah mewarnai hidup ku. terima kasih untuk  semuanya.
      Tanpa ku sadari tetes demi tetes air mata pun jatuh. Pipi ku sudah basah dibanjiri dengan air mata. Air dari hidung pun tak mau kalah untuk keluar dari sarangnya. Aku pun perlahan mengusap air mata yang tak kunjung berhenti jatuh dari sumbernya. Di saat momen sedih seperti ini, tiba-tiba saja teman ku yang bernama Milah masuk ke kamar. Dia baru saja dari kamar mandi, dan hendak mengambil sesuatu atau entah lah, pokoknya dia masuk ke kamar dengan keadaan ku yang masih dibasahi air mata. Dan tanpa diduga, detik-detik terakhir dalam panjatan do’aku, tiba-tiba dia mendekatiku dan dengan polosnya dia bertanya “yay, lo nangis???”. Kemudian dia tertawa kecil dan bergegas keluar kamar sambil membawa suatu barang, entahlah barang itu apa, aku taksempat memperhatikannya. Aku hanya bisa diam membisu disudutkan dengan pertanyaan seperti olehnya. Aku pun mengakhiri do’aku dengan mengusap kedua tangan pada wajah ku. “hellllloooooooo, lo mikir ga sih???? Gue lagi bermuhasabah diri, memanjatkan do’a, dan meneteskan air mata, dan lo dengan polosnya nanya yang sebenernya itu tuh ga usah ditanyain. Udah jelas-jelas gue nangis, dan seharusnya lo ga ganggu momen di saat gue lagi asik-asiknya nangis. Dan udah jelas-jelas gue nangis yang sebener-benernya, dan lo malah memastikan apakah gue nangis atau engga lewat pertanyaan : lo nangis???”. heeeeeuuuuuuh keeseeeeeel. Baru nemu orang kaya gini. Ganggu momen aja deh tuh anak.  Jadi eror deh momen nya.