Error
moment
“Hari ini tanggal 7
ya?” tanya ku dalam hati pada diriku sendiri. waaaaaah, hari ini hari ulang
tahun ku ternyata. “sanah helwah, yay.
Barakallah.....!!!!” . aku masih melihat diriku sendiri di cermin. Aku pun
tersenyum. “21 ya??? Udah kaya bioskop aja” kataku sambil tertawa. Untungnya,
teman-teman di kamar ku masih tidur pulas, Mungkin mereka sedang bermimpi
menjelajahi dunia, menyebrangi sungai-sungai, melewati gunung,
berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lainnya. Padahal, kenyataannya mereka sedang membuat pulau kepunyaan mereka sendiri alias
ngiler. Ok, lupakan mereka yang pulaunya sudah kian meluas saja. Aku kembali
pada diriku di depan cermin yang diapit oleh dua jendela di kamar sa’diyah. Aku
kembali tersenyum. “21 tahun yang lalu, ibuku melahirkan ku dengan penuh
perjuangan. 21 tahun yang lalu, ayah ku juga turut berjuang dalam proses
kelahiran ku. 21 tahun yang lalu, semua kakak-kakak ku turut disibukkan dengan
proses kelahiran ku. 21 tahun yang lalu, keluarga ku larut dalam kecemasan,
kesedihan, keharuan, dan kebahagiaan menyammbut kedatangan ku ke dunia ini. aku
yang tak mengerti apa-apa waktu itu, hanya bisa menangis. Ibu, ayah, kakak, dan
keluarga ku yang lain tersenyum merekah sabil meneteskan air mata”. Ya,
kira-kira seperti itu lah aku membayangkan kondisi keluarga di kala menyambut
kelahiranku. Walaupun aku juga ga tau sih persis nya kaya gimana. Tapi, ya
asumsikan saja seperti itu. akku kembali termenung, sambil melihat diriku di
cermin. “21 tahun yay, 21 meeeen. Tua banget deh. Rasanya baru kemarin masuk
kuliah, terus baru kemarin kemarinnya lagi masuk SMA, terus baru kemarin
kemarin kemarinnya lagi masuk SMP, dan rasanya baru kemarin kemarin kemarin
kemarinnya lagi masuk SD”. Duh, kebanyakan kemarinnya,pusing deh. Hehehe. ini
kan lagi momen sedih muhasabah diri, malah kaya gini.
“21 tahun, bukan waktu yang sebentar,
tapiiiiiii belum banyak yang bisa ku lakukan” kataku sambil mengehela nafas. Kulihat
jam di atas cermin sudah menunjukkan
pukul 03.30, aku pun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
#beerasa rajin. Padahal biasanya ke kamar mamndi jam segitu cuman buat pipis
doang, terus tidur lagi. Tapi hari ini, rasa malas harus dilawan sekuat tenaga.
Di kamar, teman-teman ku masih belum bergerak. Aku pun segera menggelar sajadah
panjang, kemudian aku mulai mengucapkan “allahu akbar”. Sudah lama aku tidak
mencurahkan semua unek-unek ku pada waktu seperti ini. aku mulai mengingat satu
persatu kejadian yang pernah kualami dalam perjalanan hidup ku selama 21 tahun
ini. walaupun tidak semua kejadian diingat dengan baik oleh ku, tapi ku coba
untuk mengambil hikmah dari semua kejadian yang telah kualami. Sedih, senang,
memalukan, menyebalkan, dan banyak
varian rasa lainnya.
Ya Allah, maaf kan hamba Mu ini yang
selalu melupakan mu, mengingatmu hanya di kala aku terpuruk dan tidak ada orang
yang mau berbagi pundaknya untuk membantu ku melawan segala keterpurukan
hiidup. begitu banyak ni’mat yang Kau beri,
tapi aku tidak sadar dan mendustakan ni’mat itu. maaf kan aku ya Allah... aku
selalu menuntut agar segala kbeutuhan hidup ku terpenuhi bahkan lebih , tapi
jarang sekali aku memperhatikan kewajiban yang seharusnya aku penuhi terlebih
dahulu. Ibu, maafkan anak mu ini yang selalu menganggap mu bawel, cerewet, dan
selalu mengatur. Padahal aku tahu, itu semua demi kebaikan ku. itu semua kau
lakukan karena kau menyayangiku. Ayah, maafkan anak mu ini yang selalu
menganggap mu galak, penuh dengan aturan, dan otoriter. Padahal aku tahu, semua
yang kau lakukan semata-mata hanya karena kau peduli dan ingin menjaga ku agar
kelak nanti aku tumbuh menjadi wanita
yang baik. Dengan status “anak bungsu” yang aku sandang, aku selalu bepikir
bahwa aku selalu dieksploitasi oleh semua kakak ku. padahal, betapa aku selalu
mengganggu mereka, sehingga waktu mereka tersita untuk menjaga ku ketika ayah
dan ibu tak ada. untuk semua teman ku, maaf kan lah teman mu ini yang cuek, tak
peduli, tapi sering merepotkan kalian dan meminta perhatian lebih dari kalian.
Terima kasih ya Allah atas semua ni’mat
yang Kau berikan pada Ku. walaupun terkadang aku sering mendustakannya. Terima
kasih ya Allah, aku dilahirkan dan tumbuh besar dalam keluarga yang selalu
mengajari dan mengingatkan ku untuk selalu mengingat Mu. keluarga yang terdiri
dari ayah, ibu dan 5 orang kakak. Terima
kasih untuk ayah yang selalu berjuang
keras untuk mencari nafkah, dan menjadi
imam yang baik bagi keluarga kami.
Begitupun dengan ibu, yang selalu berusaha
menjadi ibu yang baik dalam merawat dan membesarkan kami dengan penuh
kasih sayang dan kesabaran. 5 orang kakak dengan sifat dan karakter yang
berbeda-beda, tapi mereka dengan ikhlasnya membagi apa saja yang mereka punya untuk ku. terima
kasih juga untuk semua teman ku, yang dengan kuat masih dapat bertahan dengan
segala kekurangan dan kelebihan ku. terima kasih, kalian telah mewarnai hidup
ku. terima kasih untuk semuanya.
Tanpa ku sadari tetes demi tetes air mata
pun jatuh. Pipi ku sudah basah dibanjiri dengan air mata. Air dari hidung pun
tak mau kalah untuk keluar dari sarangnya. Aku pun perlahan mengusap air mata
yang tak kunjung berhenti jatuh dari sumbernya. Di saat momen sedih seperti
ini, tiba-tiba saja teman ku yang bernama Milah masuk ke kamar. Dia baru saja
dari kamar mandi, dan hendak mengambil sesuatu atau entah lah, pokoknya dia
masuk ke kamar dengan keadaan ku yang masih dibasahi air mata. Dan tanpa
diduga, detik-detik terakhir dalam panjatan do’aku, tiba-tiba dia mendekatiku
dan dengan polosnya dia bertanya “yay, lo nangis???”. Kemudian dia tertawa
kecil dan bergegas keluar kamar sambil membawa suatu barang, entahlah barang
itu apa, aku taksempat memperhatikannya. Aku hanya bisa diam membisu disudutkan
dengan pertanyaan seperti olehnya. Aku pun mengakhiri do’aku dengan mengusap
kedua tangan pada wajah ku. “hellllloooooooo, lo mikir ga sih???? Gue lagi
bermuhasabah diri, memanjatkan do’a, dan meneteskan air mata, dan lo dengan
polosnya nanya yang sebenernya itu tuh ga usah ditanyain. Udah jelas-jelas gue
nangis, dan seharusnya lo ga ganggu momen di saat gue lagi asik-asiknya nangis.
Dan udah jelas-jelas gue nangis yang sebener-benernya, dan lo malah memastikan
apakah gue nangis atau engga lewat pertanyaan : lo nangis???”. heeeeeuuuuuuh
keeseeeeeel. Baru nemu orang kaya gini. Ganggu momen aja deh tuh anak. Jadi eror deh momen nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar