Rabu, 07 Oktober 2015

Sajadah yang tertukar
      Matahari sudah semakin tinggi, panasnya kian terasa saja.  Bagi orang-orang yang beraktivitas di ruangan terbuka alias outdoor tentu lah sudah merasakan teriknya sinar matahari yang kian menyengat.  Lain halnya dengan orang-orang dalam ruangan yang terlindungi oleh bahan-bahan material yang sudah bersatu padu membentuk suatu bangunan. Aah di saat seperti ini, memang lebih enak duduk manis di depan televisi, daripada harus menantang teriknya sinar mentari di luaran sana.
     Sejak kemarin, orang-orang rumah sudah disibukkan dengan kepulangan orang tua ku dari perjalanan haji. Beres-beres rumah, menyiapkan makanan, dan hal lain untuk menyambut kedatangan mereka dari perjalanan jauh tersebut kami lakukan. Begitupun dengan hari ini, tepat di hari kedatangan mereka, kami disibukkan oleh silih bergantinya tamu yang datang ke rumah. Entah itu, saudara dekat, saudara jauh, karib kerabat, juga para tetangga. Mereka berdatangan silih berganti. Mereka memberi ucapan selamat atas kedatangan ayah dan ibu dari mekah. Tak hanya itu, mereka dengan senang hati meminta ayah dan ibu menceritakan perjalanan haji. Dengan penuh antusias, mereka mendengarkan seluruh cerita yang disampaikan ayah dan ibu secara bergantian. Tentu saja tidak semua cerita di perjalanan haji, mereka ceritakan. Hanya beberapa poin penting saja. Jika diceritakan semua, entah sampai kapan cerita itu berakhir.
     Ayah dan ibu sudah menyiapkan bingkisan untuk diberikan pada sanak saudara, karib kerabat dan para tetangga. Bingkisan ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, bahkan sebelum ayah dan ibu berangkat. Hanya bingkisan berisi makanan, seperti kurma, kacang arab, dan kismis serta air zam-zam yang kami persiapkan mendadak setelah kedatangan ayah dan ibu. Bingkisan tersebut  memang tak seberapa, hanya bingkisan yang lumrah diberikan setelah perjalanan haji selesai. Memang, sanak saudara, karib kerabat, dan para tetangga juga tak mengharapkan bingkisan dari jamaah haji yang baru saja pulang.  Dapat melihat ayah dan ibu pulang ke tanah air dengan selamat saja sudah membuat mereka sangat senang. Tapi, bagi ayah dan ibu, membagikan bingkisan tersebut juga merupakan suatu bentuk berbagi kebahagiaan karena bisa kembali ke tanah air dengan selamat.
     Hari itu, aku lah yang bertugas untuk membagikan bingkisan kepada para tetangga , sedangkan untuk saudara dan karib kerabat yang rumah nya jauh biarlah menjadi urusan  kakak-kakak dewasa. Aku pun mulai mengantarkan bingkisan itu di sore hari. Karena jumlah bingkisan yang lumayan banyak, aku di antar Bang Abdur. Motor bang Abdur mulai menyusuri jalanan. “Ust. Romli dan Mamah Dedeh di gang cemara nih” ucap bang Abdur sambil menghentikan motornya. Aku pun turun dan mengambil bingkisan bagian mereka. “tungguin ya bang” kataku pada bang Abdur takut ditinggalin. “iyeee, cepet sanaa” pinta bang Abdur sambil menggerak-gerakkan tangannya.
     Aku mulai memasuki kawasan gang cemara, dan aku harus berjuang keras untuk menyusuri jalanan ini. Bukan apa-apa, sedang ada perbaikan jalan di gang ini yang menyebabkan akses jalan tidak terlalu bagus dan sulit untuk dilewati. Aku harus melewati berbagai gundukan tanah sebelum akhirnya sampai di rumah Ust. Romli. “Ust. Romli nya ada?” tanyaku pada seorang wanita muda berkacamata, sepertinya itu anak ust. Romli. Aku pun tak tahu pasti, hanya menduga-duga. Dan aku pun tak mungkin menanyakan hal itu langsung. Sudahlah, lupakan. Wanita muda berkacamata itu menunjuk laki-laki paruh baya di depannya yang sedang ikut dalam kerja bakti  perbaikan jalan. Lelaki itu pun menoleh pada ku. aku pun tersenyum, sambil memberikan bingkisan sesuai dengan tugasku. “ini pak, dari ibu. banyak sih engga, tapi silakan diterima bingkisannya”. “Oh iya de. Terima kasih. Ibu udah datang? kapan datangnya? Aduuuh belum sempet ke rumah, maf ya de.” Katanya sambil tersenyum. “iya pa, ga apa-apa. Alhamdulillah kemarin subuh  datangnya pak”. Setelah percakapan singkat itu, aku pun bergegas untuk kembli bertugas.
    Tujuan selanjutnya adalah rumah Mamah Dedeh. Setelah menemukan rumahnya dan memberikan bingkisan,  aku kembali menyusuri jalan yang dipenuhi gundukan tanah. Tujuan selanjutnya adalah Bu Iqah, Bu guru, dan keluarga Bu Lela. Untuk bu Iqah dan Bu Guru tidak ada hambatan. Bingkisan langsung diserahkan pada orangnya. Hanya saja, bu guru yang sedang tidak ada di rumahnya, menyebabkan kami membawa kembali bingkisan itu. Mungkin besok, kami akan mencoba kembali ke rumah bu guru. Siapa tahu, besok sudah ada. Tujuan berikutnya adalah “gang cempaka”. Ini adalah bingkisan untuk keluarga Bu lela. Ada 4 bingkisan untuk keluarga Bu lela, yang terdiri dari rincian sebagai berikut:
1 untuk bu Lela sendiri
1 untuk kakanya, yaitu Bu Ros
1 untuk kakaknya lagi, yaitu Bu Pipih
Dan 1 untuk kakaknya, yaitu Pa Zein.
Jadi, totalnya ada 4 biingkisan.
      4 bingkisan ini akan ku serahkan pada Bu lela saja, dan aku akan menitipkan bingkisan untuk Pa Zein, BuRo, dan Bu Pipih  pada Bu Lela juga. Biar bu lela saja yang membagikan bingkisan itu pada kakak-kakaknya. Hahaha. Bukan bermaksud untuk menyuruh, hanya saja itu yang diperintahkan oleh ibu. Ya, tentu aku dengan senang hati menurutinya.
      Motor Bang Abdur telah sampai tepat di depan rumah Bu Lela. Aku pun bergegas turun dan langsung melangkahkan kaki ke rumah tersebut sambil membawa kresek berisikian bingkisan tersebut.  Kebetulan Bu Lela sedang ada di halaman rumahnya, sehingga kedatanganku langsung disambut hangat oleh nya. Tanpa basa basi, aku langsung menyerahkan kresek berisi bingkisan tersebut kepada Bu Lela. tak lupa ku jelaskan bahwa 3 bingkisan yang lainnya ditujukan untuk bu Ros, Bu Pipih, dan Pa Zein yang semuanya dititipkan pada Bu Lela. Bu Lela sama sekali tak keberatan atas titipan tersebut. “udah ada namanya ko bu di bingkisan” kata ku padanya. Bu Lela berterimakasih atas bingkisan tersebut. Misi pun selesai, dan aku pun pulang bersama bang Abdur.
     Aku pun santai melangkahkan kaki ku ke rumah. “udah semua, de?” tanya ibu pada ku yang baru saja datang. “udah bu, cuman bu Guru aja yang belum. Di rumahnya ga ada siapa-siapa. Jadi bingkisannya, dibawa pulang lagi. Nih bingkisannya” kataku sambil menaruh bingkisan tersebut di atas tumpukan bingkisan yang lain. Saat sedang bersantai ria di halaman rumah bersama bang Abdur dan yang lainnya, tiba-tiba hp ku bergetar. Mungkin hp nya lagi jatuh cinta, jadi bergetar gitu deh. Hahaha. Bukan. Bukan. Bukan. Ini ada panggilan masuk dari Bu Lela. “assalaamu’alaikum” aku menjawab panggilannya. “wa’alaikum salaam” Bu Lela membalas salamku. “hilyah, ini bingkisan yang dibungkus pake koran kan udah ada namanya, tapi ko namanya bukan pa Zein, Bu Ros, dan juga Bu Pipih ya? Kalau yang ibu sih ada, namanya Bu Lela. Ini ga salah ngasih?” aku hanya bisa bengong sambil mikir mendengar pernyataan seperti itu.
     Sejenak aku berpikir, kemudian aku mikir lagi aku harus jawab apa atas pernyataan dan pertanyaan yang baru saja dilontarkan Bu Lela. Aku pun diam sebentar sebelum beberapa kalimat keluar dari mulut ku. “terus namanya apa bu? Perasaan tadi hilyah bawa bingkisan yang ada nama nya Pa zein, Bu Ros, dan Bu pipih ko. Ngga yang lain ko bu.” Jawab ku mencoba melakukan pembelaan. “nih namanya ya ibu bacain, ada Pak Ace, Pa Ato, dan Bu Ani. ini ga ketuker ya? Kalau ketuker, ini nanti bingkisannya ibu anterin ke rumah hilyah” jelas Bu Lela padaku. Aku pun gelagapan mendengar pernyataan tersebut. Aaah aku tak bisa mengahadapinya sendirian. Aku pun mencari ibu, dan menyampaikannya pada ibu. Ibu yang mendengar cerita ku juga ikutan kaget dan bingung. Huaaahh, maafkan anakmu ini, bu.
      Aku masih berbicara dengan bu Lela via telepon, hanya saja aku mengacuhkannya sebentar untuk memberitahu ibu soal ini. “bilang aja ga apa-apa” kata ibu pada ku. aku pun latah mengikuti kata-kata ibu” ga apa-apa bu”. “beneran ga apa-apa? takutnya ini bingkisannya beda?”  tanya bu lela memastikan. “iya, bu. Ga apa-apa, isinya sama aja ko” kataku meyakinkan. “ooh ya udah kalau gitu. Makasih ya hilyah. Assalaamu’alaikum”. Aku pun menjawab salamnya, dan panggilan pun berakhir.
      Entahlah, aku malu, dan merasa konyol. Aku pun berteriak di hadapan ibu “ibuuuuuuu, bingkisannya ketuker”. Bang Abdur yang ada di sebelah ibu tersenyum emnahan tawa. “tadi kenapa ga di cek dulu sebelum kamu berangkat nganterin bingkisan?“ tanya ibu pada ku. “ya, abis aku udah enek ngeliat bingkisan. Dan aku tadi tuh udah yakin banget kalau bingkisan itu emang buat Pak Zein, Bu  Ros, dan Bu pipih. Eeeehhh, taunya..... ketukernya tuh sama bingkisan punya Pak Ace, Pak Ato, dan Bu Ani, bu. itu kan bingkisan yang tadi pagi dibawa sama bang Irwan. Berarti tadi bang irwan salah bawa bingkisan. Tadi siapa yang ngasih bingkisan ke bang irwan? Soalnya, emang bingkisan rombongan Pa Ace dan rombongan Pa Zein itu sebelahan. Sama lagi isinya tiga.” Aku mengeluarkan semua unek-unek tak terhenti..
     Bang Abdur tertawa mendengar ocehanku, dan dia mulai angkat bicara. “ tadi pagi tuh aku yang ngasih kresek bingkisan ke bang irwan. Tapi, kan aku juga ngasih itu sesuai intruksi ibu yang bilang kresek itu ditujukan untuk rombongan Pa Ace. Jadi, ya aku kasih saja ke bang irwan dengan pedenya” jelasnya sambil ketawa ketiwi nyengir kuda. “ya udah lah, nasi sudah menjadi bubur. Tapi, ya asal kalian tahu aja, isi dari bingkisan itu emang sama isinya sajadah. Tapi, ya sajadah untuk rombongan Pak Ace memang lbeih bagus daripada sajadah untuk rombongan Pak Zein. Ya, setingkat lebih tinggi lah maksudnya. Walaupun pada dasarnya, keduanya bagus dan ibu emang ga beli barang yang jelek”.  Jelas ibu
    “waaah, beruntung tuh keluarga Pak Zein. Sajadahnya ketuker sama sajadah rombongan Pak Ace yang notabene nya lebih bagus” ucap bang Abdur sambil tertawa. “iya, ya rizki nya Pak Zein bagus tuh. Lagi Hoki” kak Sofi menambahkan sambil tertawa. Ibu pun tak ketinggalan memberikan komentarnya dengan semangat, “rizki kan udah diatur sama Allah. Ya, walaupun ibu udah nyiapin sajadah A buat keluarga Pak Zein, tapi ketentuan Allah berkata keluarga Pak Zein harus dapat sajadah B, ya dapatnya juga sajadah B. Ya, ini nih bukti kongkrit rizki itu ga akan ketuker”.  aku, bang Abdur, dan kak Shofie, tiba-tiba satu pemikiran.“ooooh mungkin ini berkah karena ikut pengajian selama ibu dan bapak di mekkah. Kan keluarga Pak Zein ga pernah alpa tuh” jelas bang Abdur dengan semangat. “iya, iya bener” kata ku dan kak shofie. Kita bertiga mengangguk-ngangguk menyutujui perkataan Bang Abdur.

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar