Senin, 08 Februari 2016


Sekilas tentang Novel Hujan
Judul Buku                  : Hujan
Penulis                         : Tere Liye
Banyak halaman          : 320 halaman
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit                 : Januari 2016

     Novel terbaru Tere Liye sudah terpajang di toko-toko buku. Hujan, judul terbaru novelnya. Tak kalah mengagumkan dari novel-novel sebelumnya. Novel tere liye memang selalu tampil memukau para penikmat novel, khususnya para penggemar novelnya. Entahlah, akhir-akhir ini judul yang dipakai untuk novelnya selalu terdiri dari satu kata. Tak percaya? Baiklah ini merupakan deretan judul novelnya yang hanya satu kata
Pulang, rindu, bumi, bulan….

       Novel hujan yang bau-baru ini telah tersebar di berbagai toko buku di Indonesia, tentu telah menyedot perhatian lebih dari penikmat novel dan penggemar karya tere liye ini. Di beberapa toko buku tak mau melewatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan. Mereka memesan buku dengan jumlah eksemplar yang banyak, mengingat antusias massa yang akan banyak mencari-cari karya ini.
Novel yang diberi judul “Hujan” ini  mengisahkan tentang persahabatan, cinta, perpisahan, melupakan dan tetnang hujan. Kisah ini dimulai di ruangan terapi syaraf. Di ruangan terebut terdapat seorang paramedis dengan seorang pasiennya bernama lail. Lail datang ke tempat ini untuk melupakan hujan. Lail pun masuk ke dalam ruangan untuk memulai terapi nya. Ia mulai bercerita tentang kehidupannya. Disinilah awal cerita itu dimulai. Lail memulai ceritanya dengan cerita di tahun 2042. Tahun dimana bencana alam dahsyat terjadi di muka bumi, dan hanya menyisakan 10 persen penduduk bumi. Tahun dimana ia kehilangan ibu dan ayahnya. Tahun dimana ia mengenal seorang anak laki-laki yang terpaut dua tahun lebih tua darinya yang nantinya amat berarti dalam hidupnya.
  Tahun 2042, penduduk bumi sudah menikmati kemutakhiran teknologi. Tak ada lagi jam konvensional, tapi digantikan dengna peranti model terbaru  berukuran 2x3 cm yang ditanam di lengan. tinggal goyangkan lengan mu, maka layar itu akan menyala. Sangat praktis dan banyak hal yang dapat dilakukan oleh layar sentuh tersebut.  Peranti tersebut dapat berfungsi sebagai jam, alat komunikasi, juga alat pembayaran.  Pada tahun itu pula, telah lahir penduduk bumi yang ke 10 miliyar.  Hal ini tentu menjadi perbincangan hangat. Kelahiran bayi yang ke 10 miliyar ini adalah berita buruk bagi seorang professor yang sedang diwawancarai pembawa acara berita. Ia menyebutkan umat manusia ini sejtinya sama seperti virus. Mereka berkembang biak dengan cepat, menyedot sumber daya hingga habis, kemudian tidak ada yang tersisa. Mereka rakus sekali. Wabah penyakit atau perang sekalipun tak pernah berhasil menghentikan umat manusia. Yang bisa menghancurkan manusia itu adalah obat paling keras. Dan itu adalah kekuatan alam. Sehebat apapun manusia, Tapi mereka sebenarnya lemah ketika berhadapan dengan alam.  Dan itu adalah bencana alam yang sangat mengerikan dan tak terelakkan.
       Bencana alam yang dahsyat itu akhirnya terjadi, meluluhlantahkan yang ada di bumi. Membuat hidup Lail berubah. Ingin tahu kelanjutannya? Bagaimana kelangsungan hidup penduduk bumi? Yuu baca yuuu novel Tere Liye yang terbaru, HUJAN.  
Novel ini akan membawa mu ke zaman teknologi yang mutakhir. Tahun 2050, dengan berbagai fasilitas mesin yang menawan. Mobil terbang, penghapus memori, dan berbagai peralatan modern lainnya yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Novel ini juga sekaligus mengingatkanmu akan keserakahan manusia yang akan menghancurkan manusia itu sendiri. Ketegaran menerima takdir buruk yang dibalas dengan persembahan terbaik yang bisa dilakukan untuk kebermanfaatan bagi sesama. Dan, tentang kenangan yang ingin dihapus dari memori. Namun, sejatinya, bukan melupakan kenangan yang menjadi masalahnya. Tapi menerima. Barang siapa menerima, maka dia bisa melupakan. Tapi, jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan bisa melupakan.


So, tunggu apalagi segera baca buku nya sekarang. Dijamin, ga bakalan nyesel. Harga normalnya  Rp. 68.000. Kemarin sih dapat diskon, harganya jadi 50.000, hehehe….

Kamis, 04 Februari 2016

Terima kasih sudah mengantar
      Hilyah melirik jam yang dipakai di pergelangan tangan kirinya. Matanya seketika membulat melihat deretan angka yang bermunculan di layar jam digitalnya. “18.30” lirih hilyah sambil menghela nafas. Tali sepatu  Hilyah sudah membentuk pita yang sempurna. Ia pun bergegas untuk segera pulang. Biasanya sebelum magrib dia sudah duduk manis di kursi sambil menonton televisi. Berbeda dengan hari ini. Dia baru saja keluar dari mushola setelah selesai mengerjakan shalat magrib di sekolah karena baru saja menyelesaikan latihan dasar kepemipinan pengurus OSIS baru.
“Yaaaayyy…Hilyaaah” suara Abdul terdengar sangat jelas memanggil Hilyah.
“Ga usah teriak-teriak, jarak kita cuman 5 langkah tau” jawab Hilyah sambil teriak-teriak menghampiri Abdul.
“Sendirinya juga teriak. Ah udah ah. Maaf ya ibu bendahara OSIS” ucap Abdul sambil tersenyum.
“Kamu teriak-teriak histeris manggil aku mau apa, my fans?” Tanya Hilyah pada ketua OSIS yang baru terpilih itu.
“Tambahin 1000 dong” Abdul tersenyum sangat manis untuk mendapatkan uang 1000. Sudah tak aneh lagi bagi Abdul untuk bersikap seperti itu pada Hilyah. Mereka sudah  hampir dua tahun sekelas dan lumayan akrab
“Iiiiiiiihhhh, ga mau ah” Hilyah memanyunkan bibirnya.
“Ga usah manyun-manyun gitu deh. 1000 doang yay. Ya ya ya?” Abdul kembali membujuk Hilyah.
“Ga ada 1000, pak ketua OSIS. Adanya 5000. Aku mah gitu orang nya baik banget” Hilyah menyodorkan uang kertas senilai 5000. Ah, entahlah Hilyah selalu iba pada abdul. Ia tak akan tega menelantarkan Abdul yang jajan donat, dengan  uangnya yang  kurang 1000. Selalu saja begitu.
     Abdul pun kegirangangan menerima uang tersebut, dan langsung memberikannya pada abang tukang donat. Dengan cekatan, abang tukang donat tersebut memberikan kembaliannya sebesar 4000. Dengan cepat pula, Abdul menyambar uang kembalian tersebut sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Abang tukang donat tersenyum lebar. Entah karena dia kegirangan donatnya di beli Abdul di waktu magrib seperti ini atau juga karena melihat kelakuan Abdul yang tak karuan. Ah, entahlah. Abdul memang selalu bisa membuat orang tersenyum dengan segala keanehan yang dimilikinya. Ya, dia Abdul sang ketua OSIS yang baru terpilih
       Sebelum uang 4000 itu melayang ke dompet Abdul, dengan cekatan tangan Hilyah mengambil uang tersebut dari tangan Abdul. Kini, uang itu sudah beralih tangan. Sebelum melihat wajah abdul yang telah berubah, Hilyah berlari membawa uang tersebut sambil berteriak. “dadah abdul, aku pulang duluan. Udah telat pulang ini. Nanti dimarahin ayah sama ibu”.
“Katanya kamu baik banget. Sampe-sampe ngasih 5000, padahal aku cuman minta 1000. Ah, baik banget apanya? Uang 4000 nya diembat juga. Ah hilyaaah” teriak Abdul pada Hilyah yang sudah melangkah menjauh dari padangan Abdul. Menyadari teriakannya yang tak digubris Hilyah, Abdul pun bergegas pergi meninggalkan mushola sekolahnya, termasuk meninggalkan tukang donat yang masih betah aja nongkrong di halaman mushola. Padahal anak-anak sudah banyak yang pulang dari tadi. Mungkin abang tukang donat sedang bernostalgia dengan masa-masa sekolahnya dengan menikmati suasana sekolah ini di malam hari. Ah entahlah. Dengan rasa lelah yang ia rasakan setelah mengikuti latihan dasar kepemimpinan yang diberikan kepada pengurus OSIS baru, Abdul sudah ingin meninggalkan sekolah sedari acara pelatihan tersebut selesai. Bahkan sebelum pelatihan selesai pun, ia mungkin telah meninggalkan sekolah jika ia berhasil kabur dari acara tersebut. Tapi niat nya urung dengan melihat Hilyah yang terus melototi dirinya. Walaupun ia tahu, seberapa kuat Hilyah mencoba agar matanya terlihat besar, tetap saja, mata Hilyah yang berukuran minimalis itu tak mungkin menjadi mata belo sebesar mata yang dimiliki para karakter anime. Apalagi, jika Hilyah tersenyum dan tertawa, mata Hilyah cuman tingal segaris. Ah, tetap saja ia akan menuruti kemauan Hilyah. Entahlah.
“Yaaay, tunggu.” Teriak Abdul sambil berlari mengejar Hilyah
Hilyah menoleh dengan ekspresi yang mneyiratkan pertanyaan “mau apa lagi sih Abdul? Udah dikasih uang 1000 juga. Kurang? Ga akan aku kasih kali, ini buat ongkos pulang”
“Apa? Uang yang 4000 ga akan aku kasih. Dari awal juga ga ada perjanjian kalau uang yang 5000 itu semuanya buat kamu. Ga ada kan?” sewot Hilyah mendengar teriakan Abdul yang memanggilnya.
“Siapa juga yang mau mengungkit masalah uang tadi” bela Abdul
“Terus mau apa?” Tanya Hilyah
Abdul menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil cengengesan tak jelas. Hilyah yang melihatnya tak berkata apa-apa. Hanya aneh saja dengan sikap abdul.
“Udah malam, mau aku anterin pulang ga?” kata abdul sambil tersenyum
“Engga ah” jawab Hilyah pendek
“Eh, udah malam lho ini. Kamu ga apa-apa jalan sendirian?” Abdul tak menyerah akan tawarannya
“Engga ah, biasanya juga sendiri. Udah ah, aku mau pulang” Hilyah menjawab seadanya
“Ya udah aku anterin ya? Mau pake motor ga?” Tanya Abdul
“Engga ah” jawab Hilyah singkat.
“Ya udah yu, jalan aja. Aku anterin sampai gerbang perumahan” jelas Abdul sambil melangkahkan kakinya.
      Sejenak hilyah terdiam, mengerutkan dahinya. Ah sudahlah. Dia kembali melangkahkan kakinya. Padahal Hilyah sudah jelas-jelas berkata tidak, tapi tetap saja langkah abdul beriringan dengan langkah kaki Hilyah. Sekolah mereka berdua memang terletak di pertengahan perumahan, dan tak ada alat transportasi yang dapat diakses untuk menuju kesana. Alternatifnya adalah dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan pribadi. Dan hilyah memilih untuk berjalan kaki dengan alasan untuk kesehatan. Padahal alasan sebenarnya, dia tak bisa menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda atau motor. Berbeda dengan abdul yang sudah lihai mengunakan sepeda motor, dan memutuskan untuk menggunakannya. Walaupun tanpa berbekal SIM, Abdul tetap nekad menggunakannya.
     Mereka sudah keluar dari gerbang sekolah, menuju gerbang perumahan.
“Abduuuul” teriak kak rasyid, anak kelas 12-4 yang bersahabat baik dengan Abdul entah sejak kapan
“Heeeyy bang” Abdul menyambut dengan hangat.
Aku hanya  tersenyum pada kak Rasyid saat dia menyapaku. Tak hanya bertegur sapa, mereka juga mengobrol entah tentang hal  apa. Aku tak mengerti. Aku bagaikan seonggok daging tak bernilai diantara dua makhluk herbivor ini. Aku diabaikan. Mereka dengan asyiknya ngalor ngidul mengobrolkan sesuatu. Dan akhirnya obrolan  itu berakhir karena kak Rasyid harus menemui temannya yang tinggal di sekitar perumahan dekat sekolah untuk mengerjakan tugas kelompok. Hilyah dan Abdul kembali melangkahkan kaki. Hening sejenak mewarnai langkah kaki mereka. Hingga akhirnya Hilyah mulai berbicara.
“Ko bisa sih, beli donat dengan uang yang kurang 1000? Kenapa juga harus beli donat?” Tanya Hilyah sambil terus berjalan.
“Harus banget bahas ini? Aku tadi laper banget yay. Kalau aku ga beli donat di si abang itu, entahlah. Mungkin, Kamu akan menemukan badan ku tergeletak di halaman mushola” jawab abdul santai
“Jadi kamu kelaparan? Kasihan…” Hilyah memperlihatkan ekspresi simpatinya.
“cieeee…. abdul sama siapa? Cieeee.. Oh iniii toh” tiba-tiba terdengar suara dari arah depan mereka.  Tiga orang perempuan yang tak lain adalah teman sekelasnya kak Rasyid yang juga akrab dengan abdul. Ah, entahlah sepopuler itukah Abdul. Anak kelas 12 saja mengenalnya. Ya, walaupun harus diakui, Abdul memang lebih populer dibandingkan Hilyah. Jika kepopuleran Hilyah masih di tingkat regional, maka kepopuleran Abdul sudah ada di tingkat nasional. Hilyah dan Abdul mencoba untuk tetap mengendalikan diri. Mereka berusaha setenang mungkin seteleh kata “cie” terucap dari mulut ketiga perempuan itu. Mereka bersikap seolah tak mendengar kata cie itu. Hilyah yang tak mengenal ketiga perempuan itu, hanya bisa tersenyum pada mereka dan  berusaha bersikap biasa saja sebagai tanggapan dari ucapan kakak kelasnya itu. Entahlah, yang ada di pikiran Hilyah dan Abdul saat itu adalah bagaimana mengendalikan diri agar terlihat tenang. Tak terpancing oleh kata “cie” yang diucapkan kakak kelas mereka. Jika saja mereka terpancing oleh kata cie tersebut, dan mereka bersikap mengelak, itu hanya akan membuat mereka terpojok dan mungkin juga akan berlanjut di sekolah besok. Jadi, mereka memilih untuk bersikap seolah tak ada apa-apa.
“Eh, kak. Mau kemana? Nyusul bang Rasyid ya?” Tanya abdul mencoba mengalihkan pembicaraan
“Iya nih, duluan yaa. Baik-baik yaa kalian” Ketiga perempuan itu pergi dengan santainya
“Cie, cie.. Cie apanya?Apaan sih cie cie” ucap Hilyah kesal dalam hati.
“Udah nyampe nih. Udah ya, sampai sini?Naik angkot kan? Bisa nyebrang kan? Udah nyebrang sana” ucap Adul dengan ramah
“Iya, naik angkot. Kamu ga pulang? Kan rumah kita searah?” Tanya hilyah kebingungan
“Pulanglah, kamu kira aku rela meninggalkan kasur empuk di rumah dan tidur di sekolah? Engga kan? Aku balik dulu ke sekolah ngambil motor. Kan tadi motornya ditinggal disana” jawab Abdul sambil melihat Hilyah yang masih kebingungan.
Hilyah menggaruk kepalanya yang tak gatal, tak berkata apa-apa. Ia masih mencerna kata-kata Abdul yang menyebutkan motornya ditinggal di parkiran sekolah.
“Udah sana, cepet pulang. Hati-hati nyebrangnya.” ucap abdul sambil meneggerakkan tangannya.
Hilyah pun menuruti perkataan abdul, melangkahkan kaki melewati gerbang perumahan. Hilyah membalikkan badannya 180 derajat, dan Abdul masih ada di hadapannya. Abdul pun melambaikan tangannya pada Hilyah. Hilyah membalas dengan melambaikan tangan sambil tersenyum pada Abdul. Hilyah masih belum beranjak. Abdul membalikan badannya dan berlari  menuju sekolah untuk mengambil motor di parkiran. Hanya punggung abdul yang terlihat dan  semakin lama semakin menghilang. Dan Hilyah akhirnya sadar kalau Abdul selalu menggunakan motor ke sekolah, begitupun dengan hari ini. Walaupun rumah mereka searah, tapi mereka tak pernah pergi atau pulang sekolah bareng. Hilyah selalu memilih untuk naik angkot. sedangkan abdul selalu memilih untuk menggunakan motornya. Dan abdul juga telah menawarkan diri untuk mengantarkan dirinya dengan motor. Tapi Hilyah yang tak mau, dan akhirnya mereka berjalan bersama sampai gerbang perumahan.
“Terima kasih sudah mengantarkan sampai gerbang ini. Terima kasih Abdul.” ucap  Hilyah dalam hati  sambil tersenyum.