Kamis, 22 September 2016

Kehilangan


Siang itu, hari sabtu menjelang idul Adha yang jatuh pada hari senin, aku harus merelakan benda yang teramat aku sayangi. Benda yang selalu menemani ku dari bangun tidur sampai tidur lagi. Sudah satu tahun lebih dia bersama ku. Tapi, siang itu tiba-tiba dia hilang tanpa jejak. Raib ditelan bumi. Ooooh God, kenapa ini harus  terjadi pada ku?(pertanyan klasik ketika sesuatu tak menyenangkan terjadi). Kamu sudah tahu kan benda apa yang ku maksud? Yup, benda tersebut adalah handphone alias HP. Jeng jeng jeng….. Aku harus menerima kenyataan bahwa sekarang dia sudah tak bersama ku lagi.
      Kejadiannya sabtu siang, dalam perjalanan pulang ke rumah. Seperti biasa, menggunakan transportasi umum, angkutan umum alias angkot tepatnya. Aku duduk di ujung belakang, di jok yang lebih pendek. Aku menikmati perjalanan ditemani panas mentari yang menyengat menembus kaca angkot ini. Angkot semakin penuh, sesak. Aku pun semakin terdesak. Diam. Tak berkutik. Kala itu, aku masih sempat memegang HP, entah itu sekedar melihat time line di sosmed atau membalas chat-chat yang masuk.
     Tempat tujuan sudah semakin dekat, aku pun mengamankan HP ke dalam saku jaket di sebelah kanan. “kiriiiiii” teriak ku, seketika mamang supir angkot memberhentikan kemudinya. Aku pun dengan susah payah berjalan melewati penumpang lain untuk bisa turun dari angkot. Puiiih, akhirnya nyampe juga. Dengan penuh semangat, aku mendorong pagar rumah, membuka pintu. Sudah ada ibu yang menyambut dengan senyum nya yang hangat. Setelah mencium tangannya, aku pun bergegas menuju kamar. Ku rebahkan tubuh ini di hamparan kasur nan empuk.
     Beberapa menit berlalu, aku pun beranjak dari kasur empuk tersebut. Ku keluarkan barang-barang yang ada dalam tas. Barang-barang di jaket pun aku keluarkan. Seketika aku sadar kalau HP yang aku simpan di saku jaket telah tiada. Ooooh Tuhan, dimanakah dia berada?. Aku ciba mengecek kembali, barang kali terselip, tapi hasilnya tetap sama. HP itu telah tiada. Aku tidak menemukannya. Aku hanya bisa termenung memutar ulang kejadian di angkot. Seingat ku, HP sudah tersimpan aman di saku jaket sebelah kanan. Dan saku jaket nya juga lumayan dalam, sehingga kemungkinan HP nya jatuh minim sekali. Kalaupun diambil orang, bukankah aku duduk paling ujung? Dan HP ada di sebelah kanan saku jaket, padahal ga ada orang di  sebelah kanan ku. Ah, entahlah. Diambil orang atau jatuh, aku pun tak tahu mana yang sebenarnya menimpa HP ku. Yang jelas, HP ku kini telah tiada
     Aku harus merelakannya. Padahal lewat HP itu, aku dapat mengakses informasi yang lalu lalang. Foto-foto dan rekaman wawancara dengan informan untuk penelitan pun ada di sana. Ah, entahlah, akan seperti apa ke depannya? Untungnya, rekaman wawancaranya sudah di transkrip, hanya foto-fotonya saja yang tak terselamatkan. Ah,harusnya aku menggandakan data-data penting ini. Mungkin, aku harus belajar untuk tidak tergantung pada benda yang satu ini.
     Ngenes, nyesek, ah pokonya campur aduk lah rasanya. Untuk beberapa menit, aku hanya bisa termenung merenungkan kejadian yang telah terjadi. Ya Allah, ampuni lah dosa-dosa hamba. Mungkin, karena aku belum sanggup untuk kurban domba atau sapi, jadi kali ini HP lah yang dikurbankan. Walaupun entahlah jatuh di tangan siapa HP ku tersayang. Sepertinya aku terlalu sering lalai dan mengabaikan orang-orang di sekitar ku. Bukankah selalu ada hikmah dari setiap kejadian  yang kita alami? Ya, walaupun aku masih belum mengetahui dan merasakan hikmah dari tiadanya HP itu. Tapi, aku percaya bahwa selalu ada alasan terbaik kenapa hal itu terjadi pada kita. Dan semoga esok lusa, aku bisa menerimanya dengan lebih lapang.
I believe it.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar