Selasa, 15 Desember 2015

Lupa pin atm

   

     Bagi kamu yang aktif menggunakan kartu atm, tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah “pin atm”.  Hahaha. Tentu saja hal ini sangat penting.  Ya kalee kamu punya kartu atm tanpa pin. Gimana cara menggunakan atm nya? Padahal tau sendiri dong, pas masukin kartu atm ke mesinnya, kamu akan diminta untuk memasukkan pin atm kamu. Setelah memasukan pin atm dengan benar, kamu bisa bertransaksi dengan bebas. Kamu bisa cek saldo, transfer atau juga tarik tunai.
      Pin atm ini terdiri dari deretan angka yang telah kita masukkan pada saat membuat kartu atm di bank.  Kamu bebas menggunakan angka berapa pun untuk pin atm kamu, yang penting angka tersebut mudah untuk diingat. Hanya ketentuan jumlah digit saja yang ditentukan oleh pihak bank. Misalnya, pin atm harus terdiri dari 4 digit angka, atau 6 digit angka. Hal ini sudah diatur oleh pihak bank.
     Tentunya kamu sudah hafal dong dengan pin atm kamu? Apalagi kalau kamu sering bertransaksi dengan kartu atm, uuuuh udah hafal banget kayanya. Tapi, lain halnya dengan orang yang gak terlalu aktif menggunakan kartu atm, dia juga akan tidak terlalu ingat dengan pin atmnya. Kenapa? Karena, pada dasarnya kita mengingat angka atau sesuatu karena kita sering menggunakannya, mengucapkannya. Jadi, wajar kalau kamu yang aktif pake atm, kamu udah hafal banget sama pin atm kamu. Dan wajar juga bagi kamu yang ga terlalu aktif pake atm jadi lupa-lupa ingat gitu sama pin atm mu.
 Nah, kalau kamu lupa-lupa ingat sama pin atm kamu yang sangat berharga itu, ada beberapa langkah yang bisa jadi solusi atas masalah tersebut

1.     Ingat-ingat berapa pin mu. siapa tahu dengan mencoba mengingatnya, kamu jadi ingat beneran. Kalau itu berhasil, selamat deh hidup mu. kamu ga perlu ribet ngelakuin hal yang lainnya.



2.    Untuk membuktikan apakah pin atm yang sudah kamu ingat-ingat itu valid atau ngga, caranya adalah dengan bereksperimen.


Langkahkan kaki mu ke mesin atm, masukan kartu atm, dan masukkan pin atm yang kamu ingat sebagai pin atm mu. kalau berhasil, berarti perkara selesai. Kamu bisa bertransaksi dengan normal kembali.  Dan ingatlah untuk jangan melupakan pin atm mu. untuk jaga-jaga, kamu bisa menuliskan pin atm di buku rahasiamu atau dimanapun yang menurut kamu aman. Tapi, kalau ga berhasil itu artinya pin atm yang kamu masukkan  “salah”. Itu artinya, kamu harus berjuang lebih keras lagi agar kartu atm mu bisa digunakan kembali

3.    Cara yang paling ampuh ketika kamu lupa pin atm adalah “pergi ke bank”.



Yoi meeen. Kartu atm itu bikinan bank. So, pasti bank tahu gimana cara nya agar kartu atm kamu bisa normal kembali alias bisa digunakan kembali.
Simpel aja, kamu tinggal pergi ke bank terdekat. Voilllaaa, kamu tinggal ikutin prosedur dari bank nya deh. Ya, standar aja sih, paling nanti dikasih nomor antrian, terus kamu ngantri deh. Jika sudah waktunya, kamu bakal dipanggil sama costumer service, dan dia juga yang bakal ngasih tau kamu harus gimana. ya, paling kamu disuruh menyiapkan beberapa digit angka untuk pin baru mu. pakaialah angka yang mudah diingat ya, kawan. Supaya  kamu ga lupa lagi.  Tadaaaaaaa, kartu atm kamu bisa digunakan selayaknya kartu atm. Tentunya dengan pin baru yang mudah-mudahan kamu ga lupa lagi yaaa.





Tamparan keras
Lelah . Memang lelah. Rasanya ingin ku teriakkan pada dunia bahwa aku merasakan lelah yang teramat sangat. Rasanya ingin ku tuliskan dalam semua status pada semua akun sosmed yang ku punya. Agar orang lain tau, aku sedang merasakan kelelahan ini. Rasanya ingin ku ucapkan kata “lelah” dalam setiap perkataan dan obrolan dengan orang lain. Bahkan saat ku sendiri, rasanya ingin sekali untuk mengucapkan lelah sambil bersandar pada tembok di sudut ruangan. Hanya tembok yang dapat dijadikan sandaran yang terlihat nyata, dan jelas di depan mata. Ah, sudahlah. Abaikan bahasan sandaran ini. Aku sedang tidak ingin membahasnya. Lain kali saja akan ku ceritakan secara khusus tentang sandaran itu.
     Ok, kembali lagi kepada rasa yang sedang menghantui ku saat ini, yaitu lelah. Entahlah, akhir-akhir ini, beberapa kegiatan akademik dan non akademik telah menyita waktu ku, menguras pikiran dan tenaga ku, serta mengikis isi dompet ku. Semoga hal ini tidak lah mengganggu kedekatanku dengan –Nya. Ya, memang terkadang kondisi seperti ini dapat membuat kita lebih dekat dengan-Nya. Karena kita sangat merasakan tidak ada lagi yang dapat membantu dan kita andalkan selain Dia. Namun, terkadang hal ini bisa juga berlawanan. Akibat terlalu pusing menghadapi kondisi yang serba tak mengenakkan, kualitas kedekatan dengan-Nya pun ikut terganggu.
      Rasanya badan ini remuk saat menjalani setumpuk aktivitas. Tapi, jika direnungkan dan dipikirkan kembali, sebenarnya aktivitas yang ku jalani tidaklah terlalu banyak. Aku masih bisa membuka semua akun sosmed ku seperti biasanya. haaah baru seperti ini saja sudah merasa orang paling lelah sedunia. Padahal, ini belum ada setengahnya, bahkan seperempatnya dari perjuangan orang-orang di luar sana. Dan aku disini, hanya bisa mengeluh dan mengeluh. Ooooohh God. Maafkan aku ya Allah. Aku terlalu terbawa perasaan. Dikiranya cuman aku aja yang sibuk. Dikiranya cuman aku aja yang lelah. Dikiranya cuman aku aja yang ada dalam kondisi kurang baik. Aah, aku terlalu berlebihan, jika beranggapan seperti ini.
     Hellllooooow, di dunia ini bukan cuman kamu yang sibuk. Bukan cuman kamu yang lelah. Open your eyes, sist. Buka mata mu, buka jendela kamar mu, lihatlah di luaran sana. Bahkan banyak orang yang lebih sibuk dari mu. Dan, mereka tidak banyak mengeluh. Bahkan mereka menikmati semua aktivitasnya.
      Ayolaaah, coba berdamai dengan keadaan yang ada. Toh, bagaimanapun kondisi mu, mentari akan tetap terbit dengan indahnya. Kamu bahagia, kamu lelah, kamu frustasi, kamu sedih, itu semua tak akan mengubah agar mentari tak terbit. Tetap saja, mentari akan terbit seperti biasanya. waktu akan terus bergulir. Dan, jika kamu hanya menuruti ego mu saja, tidak akan ada perubahan. So, jalani semuanya dengan ikhlas.
      Ingatlah, perjuangan mu, kelelahan mu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang-orang di luaran sana.
 Kamu setres, karena menghadapi ujian atau tugas yang menumpuk? Ini tak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan nabi Muhammad SAW yang dengan sabarnya menghadapi orang-orang yang tidak mempercayainya dan tidak ingin mempercayainya.
Kamu frustasi akibat ditinggal pacar, atau masalah percintaan lainnya.
Hal ini tak sebanding dengan keikhlasan Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah-Nya untuk menyembelih putranya, Isma’il.
      Coba renungkan sejenak. ujian yang kamu hadapi saat ini, dibandingkan dengan yang dihadapi para Nabi, hal ini tak ada apa-apanya. So, kamu tak perlu mempersulit keadaan dengan merasa kamu lah yang paling tertekan, paling merana akibat masalah yang kamu hadapi. Iya, kamu tentu berbeda dengan para Nabi. Levelnya juga beda. So, ujiannya pun berbeda. Dan, kamu tahu? Ujian ini telah disesuaikan dengan kemampuan mu. Artinya, kamu pasti akan mampu melewatinya. Allah tidak memberikan ujian  seperti ujian-ujian yang dialami oleh para Nabi, ya karena Allah tahu, itu terlau berat untuk mu. And then, Allah memberikan ujian lain yang sudah disesuaikan dengan kemampuanmu. Ya, ujian atau masalah yang kamu hadapi saat ini.
Percayalah, semuanya akan berlalu, dan kamu pasti dapat melewatinya…..
Lelah memang. Tapi, jadikan lelah mu ini sebagai pengingat bahwa Allah selalu bersamamu, saat kamu sudah tak tahu lagi harus bersandar kemana, harus pergi kea arah mana. So, nikmati saja sob. Hidup ini terlalu indah untuk hanya sekedar mengeluh atas keadaan yang ada.

      Fuiiiiiihhh, rambutku terguncang oleh hembuhan nafas yang ku hembuskan dari mulutku. Hmm, rasanya seperti menerima tamparan keras saat membaca petuah-petuah yang tertulis indah pada secarik kertas putih polos tersebut. Kertas putih polos tersebut aku lipat dengan rapi dan ku selipkan diantara lembaran-lembaran cerita hidupku. Petuah dari seseorang yang jauh disana yang telah rela berbagi pundaknya secara tidak langsung dengan ku. Terima kasih, kawan...

Minggu, 08 November 2015

Ketika  santri makan mie instan…

     Mungin kalian akan berpikir apa uniknya santri ketika makan mie? Toh biasa saja, sama-sama pake tangan. Eeeiiitts, tunggu dulu. Memang, pada dasarnya sama saja. Tapi, kondisi yang dialami para santri, akan membuat sensasi yang berbeda ketika mereka makan mie. Penasaran? Ok, don’t go anywhere. Akan ku bawa kalian untuk mengintip para santri makan mie…
1.      Makan mie seperti orang normal lainnya
Seperti orang normal lainnya yang memakan mie dengan keadaan normal pula. Para santri juga pernah merasakannya. Kalian tahu lah bagaimana makan mie yang normal yang sering dilakukan orang-orang.
Pertama-tama, tentu lah mie nya dimasak terlebih dahulu. Kemudian, sajikan di atas piring atau mangkok (sesuai kebutuhan). Dan, siap untuk dimakan seperti di bawah ini



2.      Tidak adanya piring, mangkok, dan teman-temannya yang lain, menyebabkan para santri rela makan mie seperti ini. Katanya sih biar kaya orang korea. Padahal itu hanya ALASAN




Karena tak adanya peralatan dapur yang lengkap, alhasil makan mie pun harus di tempat seperti ini.
“eeiihh, kita mah kaya orang korea, makannya langsung di panci. Hahaha.”
Ah, jangan percaya dengan statement sperti itu. Kalian tentu sudah tahu, itu hanya ALASAN semata. Intinya sih, ga ada lagi tempat makan yang bisa untuk dipakai.


3.      Bermodalkan air panas dan mie, para santri ini langsung dapat menikmati mie dengan lahap. Tak perlu kompor untuk memasak



     










     Tak adanya kompor, tak menjadikan para santri resah untuk menikmati enaknya mie instan. Bermodalkan mie dengan air panas, mereka dapat memasak mie tersebut dengan caranya sendiri. Do you want to know it?
Pertama, pastikan kamu punya mie instan dan air panas sebagai modal awal
Setelah itu, buka bungkus mie nya, pastikan kamu membukanya dengan benar. Kamu cukup membuka bagian atas nya saja.
Kemudian, masukkan air panas ke dalam bungkus mie yang telah dibuka. Untuk mempercepat proses pemasakan mie, tutup rapat bungkus mie dengan apapun yang ada. Bisa karet, jepitan, atau apapun yang tersedia di sekitarmu.
Dan, tunggu beberapa menit, masukkan bumbu, dan tadaaa… mie pun siap untuk dimakan. Kamu dapat menghidangkannya di atas piring atau mangkok jika tidak ingin memakan mie langsung dari bungkusnya. Makan mie langsung dari bungkusnya akan memberikan sensasi yang berbeda dari biasanya. so, tentukan selera mu, kawan!!!


   4. Tak ada air panas? Tak masalah. Para santri masih dapat menyajikan mie enak

     










Tak ada air panas? Tenang saja, para santri masih tetap bisa menikmati mie instan. Ganti saja, air panasnya dengan air dingin. Masalah pun bereees.
Caranya Tak jauh beda dengan memasak menggunakan air panas. Hanya saja, mie di remukkan terlebih dahulu dan masukkan ke dalam wadah, kemudian siram dengan air dingin secukupnya, dan jangan lupa masukkan bumbu. Aduk-aduk, dan jadiii. Dengan sensasi air dingin, kamu akan merasakan mie yang masih kriuk-kriuk.  Oh ya, jika kalian pencinta rasa pedas, bisa juga menambahkan cabai untuk tambahan bumbunya. cara seperti ini dikenal dengan sebutan "BEROK". ingat, BEROK. bukan BERAK yaaaa...

5.      Mix and match rasa mie instan. Rasa apapun dapat dicampur-campur, yang penting isinya jadi banyak


Para santri tak hanya punya keahlian dalam mix and match pakaian, tapi rasa makanan pun dapat mereka campur-campur sesuka mereka.

“masak mie yuuuu”
“ayoooo, lapar nih”
“aku ada rasa ayam bawang”
“aku ada rasa soto”
“aku ada rasa kari”
“ok, kita satuin semuanya!!!”

Tak peduli dengan brand dan rasa yang berbeda, dengan cekatan mereka mencampurkan semua rasa yang ada, sehingga terciptalah rasa baru yang memanjakan lidah. Bagi mereka yang terpenting adalah “banyaknya” dan juga “kebersamaannya”.

6.      Beli baso, tapi mie nya bawa sendiri. So, ga perlu repot masak mie instan

“bang, beli bakso. Mie nya ini ya bang” sambil menyodorkan mie pada abang tukang bakso.

Saat mereka malas untuk masak mie, tapi ingin memanjakan lidahnya dengan enaknya mie, mereka tak akan tinggal diam. Pergi ke tukang bakso adalah salah satu solusinya. Para santri ini sudah biasa membei bakso dengan membawa mie nya sendiri yang mereka punya. Selain untuk berhemat, mereka pun tak perlu repot untuk memasak mie. Kan, ada abang tukang bakso.

7.      Mie instan tanpa dimasak sudah biasa bagi para santri



Tanpa perlu dimasak terlebih dahulu, mie instan tetap bisa dinikmati oleh para santri dengan caranya sendiri. Tak perlu di masak, tak perlu ditambah air, ataupun dimasakin abang tukang bakso, mie instan kriuk-kriuk menjadi pilihan para santri untuk mengganjal perutnya. Hanya dengan meremukkan mie instan dan  mencampurkan semua bumbu yang ada, voilllaaa, mie kriuk-kriuk siap disajikan.

     Kondisi lah yang membedakan para santri dengan orang-orang di luaran sana ketika makan mie. Dengan berbagai kondisi yang dialaminya, para santri mencoba beradaptasi agar dapat menikmati lezatnya mie instan. Kondisi ini pulalah yang mengajarkan mereka untuk mencoba ikhlas menerima setiap keadaan yang ada dengan tak lupa untuk tetap berusaha. 

Selasa, 13 Oktober 2015

Untuk para Maba alias mahasiswa baru....





Buat kamu yang baru saja menjadi MABA alias mahasiswa baru, kamu pasti pernah nyebutin istilah-istilah yang notabene nya sering digunakan di kalangan anak sekolah dan bisa dibilang udah ga zaman lagi kalau buat anak kuliah. hahaha. maafkan untuk bahasa yang tidak indah ini. 

Sebagai MABA, dengan dunia baru yang berbeda dari dunia sebelumnya, yaitu masa putih abu-abu kamu pasti akan merasakan beberapa perubahan dalam hidup mu. wajar saja, jika kamu masih terbayang-bayang dengan masa SMA yang sangat membekas di benakmu. Dan akhirnya, kamu sering salah menyebutkan istilah-istilah di perkuliahan. Ya, walaupun bisa dibilang esensinya hampir sama atau bahkan sama. Hal ini bisa saja terjadi karena kamu belum terbiasa dengan dunia perkuliahan beserta istilah-istilahnya, sehingga kamu masih kaku untuk menjalani dan mengucapkan istilah-istilah tersebut. But, don’t worry. Lama kelamaan, kamu akan terbiasa dengan dunia mu yang baru ini. inilah beberapa istilah yang masih kaku diucapkan oleh MABA.....
1. Harusnya sih bilang dosen, tapi ingatan pada sang guru terlalu melekat di hati. Alhasil,  mengucapkan  istilah ‘dosen’ pun berubah menjadi “guru”.




“eh, tadi gurunya ga masuk kelas. Sakit katanya”
“guru??? Dosen keleeees”
Kamu cuman bisa nyengir kuda

     

Ya, memang esensi nya sama saja. Dosen atau guru, ya mereka sama-sama mengajar. Bedanya, kalau guru mengajar para siswa, sedangkan dosen mengajar para mahasiswa. Guru mengajar di sekolah, dan dosen mengajar di kampus.

2. Alih-alih mau bilang mata kuliah, lidahmu terpeleset dan akhirnya yang terucap adalah “mata pelajaran”




“udah ini mata pelajaran apa ya?”
“mata kuliah dasar-dasar ilmu politik bro”
Dan kamu baru sadar kalau harusnya kamu bilang “matkul alias mata kuliah” bukan “mata pelajaran/pelajaran”





Lagi-lagi esensinya tak jauh beda, bahkan sama.
Mata pelajaran, berarti apa yang kamu pelajari di sekolah, dan mata kuliah, berarti materi yang disampaikan atau diajarkan di perkuliahan. Sama-sama saja sebenarnya, hanya beda istilah. Intinya, adalah materi yang kamu dapatkan di kelas.

3.   Antara tugas dan pr
 
Anak SMA:
“aduuuh belum ngerjain PR nih”
Anak kuliah:
“aduuuuh belum ngerjain tugas nih”
Jarang banget ada mahasiswa yang menyebutkan istilah”pr”. Ya, mereka yang mengungkapkan istilah pr itu adalah para maba. Wajar lah, mereka masih ada dalam bayang-bayang masa SMA

Tugas dan Pr adalah hal yang sering kita temui dalam dunia sekolah dan kuliah. Kalau ga ada tugas atau pr, hidup mu di sekolahan atau di kampus akan terasa hambar. Tugas atau pr lah yang akan membuatmu berkembang mengeksplor materi yang telah disampaikan di kelas. So, jangan heran jika selalu ada tugas atau Pr. Ga ada tugas atau pr, hidup mu sebagai pelajar ga rame siiiis.

Walaupun masih sering menggunakan istilah-istilah yang dianggap udah ga zaman lagi buat anak kuliah, tapi jangan khawatir. Kamu masih seorang MABA yang segala tingkah laku anak SMA nya  masih dimaklumi dan dianggap wajar. Kamu mungkin masih kaku dengna dunia mu yang baru, sehingga masih sering menggunakan istilah anak SMA. But, it’s gonna be ok. Hal ini ga akan ngaruh sama nilai kamu ko. Kamu hanya perlu adaptasi dengan lingkungan baru mu juga beberapa istilah baru di kehidupan mu. selamat menjadi MABA. Selamat menjadi sosok pribadi baru yang lebih-lebih deh pokonya dari masa SMA kamu. Semangat menimba ilmu, kawan.





Rabu, 07 Oktober 2015

Sajadah yang tertukar
      Matahari sudah semakin tinggi, panasnya kian terasa saja.  Bagi orang-orang yang beraktivitas di ruangan terbuka alias outdoor tentu lah sudah merasakan teriknya sinar matahari yang kian menyengat.  Lain halnya dengan orang-orang dalam ruangan yang terlindungi oleh bahan-bahan material yang sudah bersatu padu membentuk suatu bangunan. Aah di saat seperti ini, memang lebih enak duduk manis di depan televisi, daripada harus menantang teriknya sinar mentari di luaran sana.
     Sejak kemarin, orang-orang rumah sudah disibukkan dengan kepulangan orang tua ku dari perjalanan haji. Beres-beres rumah, menyiapkan makanan, dan hal lain untuk menyambut kedatangan mereka dari perjalanan jauh tersebut kami lakukan. Begitupun dengan hari ini, tepat di hari kedatangan mereka, kami disibukkan oleh silih bergantinya tamu yang datang ke rumah. Entah itu, saudara dekat, saudara jauh, karib kerabat, juga para tetangga. Mereka berdatangan silih berganti. Mereka memberi ucapan selamat atas kedatangan ayah dan ibu dari mekah. Tak hanya itu, mereka dengan senang hati meminta ayah dan ibu menceritakan perjalanan haji. Dengan penuh antusias, mereka mendengarkan seluruh cerita yang disampaikan ayah dan ibu secara bergantian. Tentu saja tidak semua cerita di perjalanan haji, mereka ceritakan. Hanya beberapa poin penting saja. Jika diceritakan semua, entah sampai kapan cerita itu berakhir.
     Ayah dan ibu sudah menyiapkan bingkisan untuk diberikan pada sanak saudara, karib kerabat dan para tetangga. Bingkisan ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, bahkan sebelum ayah dan ibu berangkat. Hanya bingkisan berisi makanan, seperti kurma, kacang arab, dan kismis serta air zam-zam yang kami persiapkan mendadak setelah kedatangan ayah dan ibu. Bingkisan tersebut  memang tak seberapa, hanya bingkisan yang lumrah diberikan setelah perjalanan haji selesai. Memang, sanak saudara, karib kerabat, dan para tetangga juga tak mengharapkan bingkisan dari jamaah haji yang baru saja pulang.  Dapat melihat ayah dan ibu pulang ke tanah air dengan selamat saja sudah membuat mereka sangat senang. Tapi, bagi ayah dan ibu, membagikan bingkisan tersebut juga merupakan suatu bentuk berbagi kebahagiaan karena bisa kembali ke tanah air dengan selamat.
     Hari itu, aku lah yang bertugas untuk membagikan bingkisan kepada para tetangga , sedangkan untuk saudara dan karib kerabat yang rumah nya jauh biarlah menjadi urusan  kakak-kakak dewasa. Aku pun mulai mengantarkan bingkisan itu di sore hari. Karena jumlah bingkisan yang lumayan banyak, aku di antar Bang Abdur. Motor bang Abdur mulai menyusuri jalanan. “Ust. Romli dan Mamah Dedeh di gang cemara nih” ucap bang Abdur sambil menghentikan motornya. Aku pun turun dan mengambil bingkisan bagian mereka. “tungguin ya bang” kataku pada bang Abdur takut ditinggalin. “iyeee, cepet sanaa” pinta bang Abdur sambil menggerak-gerakkan tangannya.
     Aku mulai memasuki kawasan gang cemara, dan aku harus berjuang keras untuk menyusuri jalanan ini. Bukan apa-apa, sedang ada perbaikan jalan di gang ini yang menyebabkan akses jalan tidak terlalu bagus dan sulit untuk dilewati. Aku harus melewati berbagai gundukan tanah sebelum akhirnya sampai di rumah Ust. Romli. “Ust. Romli nya ada?” tanyaku pada seorang wanita muda berkacamata, sepertinya itu anak ust. Romli. Aku pun tak tahu pasti, hanya menduga-duga. Dan aku pun tak mungkin menanyakan hal itu langsung. Sudahlah, lupakan. Wanita muda berkacamata itu menunjuk laki-laki paruh baya di depannya yang sedang ikut dalam kerja bakti  perbaikan jalan. Lelaki itu pun menoleh pada ku. aku pun tersenyum, sambil memberikan bingkisan sesuai dengan tugasku. “ini pak, dari ibu. banyak sih engga, tapi silakan diterima bingkisannya”. “Oh iya de. Terima kasih. Ibu udah datang? kapan datangnya? Aduuuh belum sempet ke rumah, maf ya de.” Katanya sambil tersenyum. “iya pa, ga apa-apa. Alhamdulillah kemarin subuh  datangnya pak”. Setelah percakapan singkat itu, aku pun bergegas untuk kembli bertugas.
    Tujuan selanjutnya adalah rumah Mamah Dedeh. Setelah menemukan rumahnya dan memberikan bingkisan,  aku kembali menyusuri jalan yang dipenuhi gundukan tanah. Tujuan selanjutnya adalah Bu Iqah, Bu guru, dan keluarga Bu Lela. Untuk bu Iqah dan Bu Guru tidak ada hambatan. Bingkisan langsung diserahkan pada orangnya. Hanya saja, bu guru yang sedang tidak ada di rumahnya, menyebabkan kami membawa kembali bingkisan itu. Mungkin besok, kami akan mencoba kembali ke rumah bu guru. Siapa tahu, besok sudah ada. Tujuan berikutnya adalah “gang cempaka”. Ini adalah bingkisan untuk keluarga Bu lela. Ada 4 bingkisan untuk keluarga Bu lela, yang terdiri dari rincian sebagai berikut:
1 untuk bu Lela sendiri
1 untuk kakanya, yaitu Bu Ros
1 untuk kakaknya lagi, yaitu Bu Pipih
Dan 1 untuk kakaknya, yaitu Pa Zein.
Jadi, totalnya ada 4 biingkisan.
      4 bingkisan ini akan ku serahkan pada Bu lela saja, dan aku akan menitipkan bingkisan untuk Pa Zein, BuRo, dan Bu Pipih  pada Bu Lela juga. Biar bu lela saja yang membagikan bingkisan itu pada kakak-kakaknya. Hahaha. Bukan bermaksud untuk menyuruh, hanya saja itu yang diperintahkan oleh ibu. Ya, tentu aku dengan senang hati menurutinya.
      Motor Bang Abdur telah sampai tepat di depan rumah Bu Lela. Aku pun bergegas turun dan langsung melangkahkan kaki ke rumah tersebut sambil membawa kresek berisikian bingkisan tersebut.  Kebetulan Bu Lela sedang ada di halaman rumahnya, sehingga kedatanganku langsung disambut hangat oleh nya. Tanpa basa basi, aku langsung menyerahkan kresek berisi bingkisan tersebut kepada Bu Lela. tak lupa ku jelaskan bahwa 3 bingkisan yang lainnya ditujukan untuk bu Ros, Bu Pipih, dan Pa Zein yang semuanya dititipkan pada Bu Lela. Bu Lela sama sekali tak keberatan atas titipan tersebut. “udah ada namanya ko bu di bingkisan” kata ku padanya. Bu Lela berterimakasih atas bingkisan tersebut. Misi pun selesai, dan aku pun pulang bersama bang Abdur.
     Aku pun santai melangkahkan kaki ku ke rumah. “udah semua, de?” tanya ibu pada ku yang baru saja datang. “udah bu, cuman bu Guru aja yang belum. Di rumahnya ga ada siapa-siapa. Jadi bingkisannya, dibawa pulang lagi. Nih bingkisannya” kataku sambil menaruh bingkisan tersebut di atas tumpukan bingkisan yang lain. Saat sedang bersantai ria di halaman rumah bersama bang Abdur dan yang lainnya, tiba-tiba hp ku bergetar. Mungkin hp nya lagi jatuh cinta, jadi bergetar gitu deh. Hahaha. Bukan. Bukan. Bukan. Ini ada panggilan masuk dari Bu Lela. “assalaamu’alaikum” aku menjawab panggilannya. “wa’alaikum salaam” Bu Lela membalas salamku. “hilyah, ini bingkisan yang dibungkus pake koran kan udah ada namanya, tapi ko namanya bukan pa Zein, Bu Ros, dan juga Bu Pipih ya? Kalau yang ibu sih ada, namanya Bu Lela. Ini ga salah ngasih?” aku hanya bisa bengong sambil mikir mendengar pernyataan seperti itu.
     Sejenak aku berpikir, kemudian aku mikir lagi aku harus jawab apa atas pernyataan dan pertanyaan yang baru saja dilontarkan Bu Lela. Aku pun diam sebentar sebelum beberapa kalimat keluar dari mulut ku. “terus namanya apa bu? Perasaan tadi hilyah bawa bingkisan yang ada nama nya Pa zein, Bu Ros, dan Bu pipih ko. Ngga yang lain ko bu.” Jawab ku mencoba melakukan pembelaan. “nih namanya ya ibu bacain, ada Pak Ace, Pa Ato, dan Bu Ani. ini ga ketuker ya? Kalau ketuker, ini nanti bingkisannya ibu anterin ke rumah hilyah” jelas Bu Lela padaku. Aku pun gelagapan mendengar pernyataan tersebut. Aaah aku tak bisa mengahadapinya sendirian. Aku pun mencari ibu, dan menyampaikannya pada ibu. Ibu yang mendengar cerita ku juga ikutan kaget dan bingung. Huaaahh, maafkan anakmu ini, bu.
      Aku masih berbicara dengan bu Lela via telepon, hanya saja aku mengacuhkannya sebentar untuk memberitahu ibu soal ini. “bilang aja ga apa-apa” kata ibu pada ku. aku pun latah mengikuti kata-kata ibu” ga apa-apa bu”. “beneran ga apa-apa? takutnya ini bingkisannya beda?”  tanya bu lela memastikan. “iya, bu. Ga apa-apa, isinya sama aja ko” kataku meyakinkan. “ooh ya udah kalau gitu. Makasih ya hilyah. Assalaamu’alaikum”. Aku pun menjawab salamnya, dan panggilan pun berakhir.
      Entahlah, aku malu, dan merasa konyol. Aku pun berteriak di hadapan ibu “ibuuuuuuu, bingkisannya ketuker”. Bang Abdur yang ada di sebelah ibu tersenyum emnahan tawa. “tadi kenapa ga di cek dulu sebelum kamu berangkat nganterin bingkisan?“ tanya ibu pada ku. “ya, abis aku udah enek ngeliat bingkisan. Dan aku tadi tuh udah yakin banget kalau bingkisan itu emang buat Pak Zein, Bu  Ros, dan Bu pipih. Eeeehhh, taunya..... ketukernya tuh sama bingkisan punya Pak Ace, Pak Ato, dan Bu Ani, bu. itu kan bingkisan yang tadi pagi dibawa sama bang Irwan. Berarti tadi bang irwan salah bawa bingkisan. Tadi siapa yang ngasih bingkisan ke bang irwan? Soalnya, emang bingkisan rombongan Pa Ace dan rombongan Pa Zein itu sebelahan. Sama lagi isinya tiga.” Aku mengeluarkan semua unek-unek tak terhenti..
     Bang Abdur tertawa mendengar ocehanku, dan dia mulai angkat bicara. “ tadi pagi tuh aku yang ngasih kresek bingkisan ke bang irwan. Tapi, kan aku juga ngasih itu sesuai intruksi ibu yang bilang kresek itu ditujukan untuk rombongan Pa Ace. Jadi, ya aku kasih saja ke bang irwan dengan pedenya” jelasnya sambil ketawa ketiwi nyengir kuda. “ya udah lah, nasi sudah menjadi bubur. Tapi, ya asal kalian tahu aja, isi dari bingkisan itu emang sama isinya sajadah. Tapi, ya sajadah untuk rombongan Pak Ace memang lbeih bagus daripada sajadah untuk rombongan Pak Zein. Ya, setingkat lebih tinggi lah maksudnya. Walaupun pada dasarnya, keduanya bagus dan ibu emang ga beli barang yang jelek”.  Jelas ibu
    “waaah, beruntung tuh keluarga Pak Zein. Sajadahnya ketuker sama sajadah rombongan Pak Ace yang notabene nya lebih bagus” ucap bang Abdur sambil tertawa. “iya, ya rizki nya Pak Zein bagus tuh. Lagi Hoki” kak Sofi menambahkan sambil tertawa. Ibu pun tak ketinggalan memberikan komentarnya dengan semangat, “rizki kan udah diatur sama Allah. Ya, walaupun ibu udah nyiapin sajadah A buat keluarga Pak Zein, tapi ketentuan Allah berkata keluarga Pak Zein harus dapat sajadah B, ya dapatnya juga sajadah B. Ya, ini nih bukti kongkrit rizki itu ga akan ketuker”.  aku, bang Abdur, dan kak Shofie, tiba-tiba satu pemikiran.“ooooh mungkin ini berkah karena ikut pengajian selama ibu dan bapak di mekkah. Kan keluarga Pak Zein ga pernah alpa tuh” jelas bang Abdur dengan semangat. “iya, iya bener” kata ku dan kak shofie. Kita bertiga mengangguk-ngangguk menyutujui perkataan Bang Abdur.