Minggu, 06 September 2015

5 hal yang kamu rasakan saat ditingggal pergi haji oleh orang tua
Ditinggal orang tua untuk waktu yang lama memang menyedihkan. Walaupun, kamu sudah bukan anak kecil lagi, tapi tetap saja rasa sedih itu pasti ada. Apalagi jika kamu masih tinggal bersama mereka. hari demi hari kalian lewati bersama,  wajar saja jika kamu merasa kehilangan dan sedih saat ditinggalkan orang tua. Hal ini juga dialami oleh kamu yang ditinggal pergi oleh orang tua yang menunaikan ibadah haji. Inilah hal yang dirasakan oleh kamu sebagai anak yang notben nya bukan anak kecil lagi saat ditinggalkan oleh orang tua untuk pergi haji
1.   Walaupun bukan anak kecil, tapi kamu tetap sedih dan nangis saat mereka pergi
     Ya, walaupun kamu bukan anak kecil lagi, tapi kamu tak kuasa membendung perasaan sedih mu dan harus menumpahkan air mata saat melihat orang tua mu pergi untuk melaksanakan ibadah Haji. Hal ini memang wajar. Anak mana sih yang ga sedih ditinggal pergi oleh orang tuanya? Apalagi buat kamu yang tinggal serumah sama orang tua, pasti akan merasa kehilangan banget pas mereka ga ada di rumah. So, anak kecil atau bukan, setiap anak selalu ingin bersama dengan orang tuanya
2.   Pada masa-masa awal, kamu sering menangis karena terus-menerus ingat pada mereka
     Bagi kamu yang tinggal serumah dengan orang tua, pasti kerasa banget pas mereka ga ada di rumah. Biasanya pagi dibikinin sarapan sama ibu, sarapan bareng ayah, lihat ayah pergi kerja, bantuin ibu di rumah, makan malam bareng, nonton tv bareng, semua hal itu ga akan bisa kamu lakuin untuk sementara waktu. Dan karena hal itu sudah menjadi kebiasaan, kamu akan terus ingat sama mereka pas ada di rumah. ketika kamu mengingat mereka, tak terasa air mata pun bercucuran, apalagi kalau kamu ingat bahwa selama ini kamu banyak ngelakuin kesalahan sama mereka.
3.   Bagi kamu yang berstatus sebagai anak bungsu akan mendapatkan perhatian lebih dari kakak-kakakmu
      Perhatian dari orang tua untuk sementara waktu akan berkurang, karena jarak dan waktu yang memisahkan. Namun, untuk kamu para bungsu, keep calm. Kamu masih punya kakak-kakak tercinta yang menyayangi kamu. So, kamu bakal dapat perhatian lebih dari sang kakak. Kalau sang kakak udah ga tinggal serumah sama kamu, dia bakal sering nengokin kamu sambil bawa banyak makanan ke rumah. dan kalau sang kakak masih tinggal serumah dan dia udah kerja atau sering melakukan kegiatan di luar rumah,dia bakal ngurangin waktunya di luar  buat nemenin kamu di rumah, dan tak lupa untuk ngjak kamu jajan.
4.   Kamu yang berstatus sebagai kakak akan memberi perhatian lebih pada sang adik
     ketika orang tua ga ada di rumah, jiwa kekakaan para kakak akan terpanggil dan mereka akan merasa lebih bertanggungjawab untuk keberlangsungan hidup adiknya. Sementara orng tua mu tak ada di rumah, kamu lah yang menggantikan perannya dalam mengurus sang adik. Hal ini menyebabkan kamu memberi perhatian lebih pada sang adik. Kamu lah yangmemperhtikan apakah kebutuhannya sudah terpenuhi atau belum selama orang tua mu ga ada.

5.   Adaptasi dengan kondisi yang baru
     Dengan tidak adanya orang tua di rumah, otomatis keadaan rumah pun tidak seperti biasanya. Kamu sebagai anak yang ditinggal pergi orang tua untuk haji akan merasakan keadaan atau kondisi baru, sehingga kamu perlu beradaptasi dengan kondisi tersebut. Walaupun, kamu sedih, bukan berarti aktivitas terhenti. Kamu harus tetap melakukan aktivitas seperti biasa dengan sedikit adaptasi pada kondisi baru. Ingatlah bahwa mereka sedang melakkan perjalanan yang luar biasa dan untuk bisa melakukan itu perlu perjuangan yang luar biasa pula. jangan sampai kesedihan kamu disini, menghambat mereka dalam menjalankan ibadah di sana karena ingat terus kmau yang selalu sedih. So, keep fighting!!


Kelima hal di atas akan kamu rasakan ketika kamu ditinggalkan pergi oleh orang tua mu untuk melaksanakan ibadah haji. Tidak usah berlarut-larut dalam kesedihan, dan tetaplah beraktivitas seperti biasanya.  Hal terpenting yang harus kamu lakukan adalah selalu mendoakan mereka agar semua urusan selama haji lancar, mereka dapat kembali ke rumah dengan sehat wal’afiat, dan semoga mereka menjadi haji mabrur dan hajah mabrurah. Aamiin......

Jumat, 29 Mei 2015

Dibalik Cerita Horor
    Cerita horor memang selalu menarik untuk dibahas. Cerita ini dikonsumsi oleh anak-anak, remaja, dan juga orang dewasa. Cerita horor ini seolah tak pandang bulu dalam memillih target sasarannya. Alhasil, hampir setiap kalangan pernah mengonsumsi cerita horor ini. Sekalipun orang itu mengatakan dia tidak percaya akan hal-hal seperti itu, tetap saja dia pernah setidaknya mendengarkan cerita berbau horor yang berada di sekitarnya. Anak-anak saja sudah mengenal cerita-cerita berbau horor. Misalnya saja ketika mereka bermain dengan teman sebayanya, dan mereka dengan asyiknya bercuap-cuap, pasti pernah terbesit obrolan ke arah cerita horor. Entahlah anak-anak ini tahu dari mana. Bisa jadi, ia pernah mendengar orang-orang di sekitarnya menceritakan hal itu, entah itu keluarganya, ataupun teman-temannya. Ya, atau juga dia pernah menyaksikan tontonan-tontonan yang berbau horor. Wuuuuuh.
      Di kalangan anak-anak saja, cerita horor ini sudah menempati posisi tertentu, apa kabarnya dengan para remaja yang notabene sering dicap labil dan terkesan “alay”. Para remaja sangat senang jika sudah berkumpul alias nangkring dengan teman-temannya. Ya, obrolannya seputar pacaran, gebetan, sekolah, sinetron, artis idola, bahkan cerita horor pun masuk ke dalam daftar obrolan mereka. Memang pada dasarnya, para remaja ini mengobrolkan berbagai jenis  topik obrolan dalam kehidupan mereka. entah mengapa cerita horor pun telah mengambil jatah tempat dari sebagian obrolan anak muda ini.
     Tak heran, ketika ada program siaran radio setiap malam jumat yang menyiarkan cerita-cerita horor, disambut dengan tepuk tangan meriah oleh para remaja. Mereka rela menunggu dan menunda jam tidur mereka untuk mendengarkan siaran tersebut. Siaran yang berisi kumpulan cerita horor yang diceritakan dengan gaya yang khas, dan dengan musik yang khas pula. Setiap pekan, siaran ini rutin disiarkan alias tak pernah libur.  Cerita horor yang disjikan biasanya bejrumlah 3cerita dengan latar yangberbeda. Dan di setiap siarannya, selalu ada peringatan untuk tidak mendengarkan siaran tersebut sendirian. SENDIRIAN. SENDIRIAN. SENDIRIAN. Entah lah, apakah udah ada yang pernah mencoba mendengarkan siaran ini sendirian atau belum. Aku sendiri belum pernah mendengarkan siaran ini sendirian, dan aku belumpernah mendengar cerita yagn mendengarkan siaran ini sendirian.
      Biasanya, para remaja yang mendengarkan siaran ini, dengan setia rela menanti dan menunda jam tidurnya untuk acara ini. Walaupun acara ini disiarkan tepat pada malam jumat pada jam-jam yang sudah sepi pula, sekitar jam setengah 11. Jam setengah 11 sudah termasuk jam malam bagi para remaja. Malam jumat sebagai malam yang dikenal dengan kehororannya menambah keseruan para remaja untuk mendengarkan siaran ini. Di tengah sepinya malam jumat, adrenalin mereka merasa tertantang untuk mendengarkan siaran tersebut. Semakin malam, maka semakin menantang. Begitulah kira-kira.
      Para remaja biasanya akan mendengarkan siaran tersebut secara kolektif, paling dikit tuh 2 orang, dan maksimal sebanyak-banyaknya. Makin banyak yang dengerin bareng-bareng makin seru dengerinnya. Entah itu, karena mereka takut atau juga karena mereka menyukai kebersamaan. Karena, bersama itu lebih baik, sekaligus ngurangin rasa takut juga deh kayanya. Makin banyakan yang ngedengerin, seolah-seolah rasa takut itu dibagi-bagi, dan kita cuman kebagian sedikit dari rasa takut itu, kalau orangnya banyakan. Maka dari itu, lebih banyak lebih baik, karena rasa takut akan berkurang. Ya, walaupun yang dengerin semuanya orang penakut atau sebagian besar penakut. Tapi ya, kalau dengerinnya bareng-bareng, seolah-olah rasa takut itu bisa di bagi rata, dan mengurangi beban takut kita.
      Entah lah, para remaja ini, entah memang mereka sangat menyukai kebersamaan, atau mungkin mereka tidak berani untuk mendengarkannya sendirian. Entahlah. Tapi, yang jelas, bersama-sama itu jauh lebih baik. Seolah-olah beban kita dibagi, dipukul rata dengan semua teman yang ada, sehingga kita tidak merasa sendiri, dan bahkan beban terasa berkurang. Aaaiiiiih. Ini berlaku untuk semua rasa ya, tak hanya untuk rasa takut saja, bahkan rasa sedih pun dengan bersama-sama bisa berkurang juga lho. Dan untuk rasa bahagia, bukan berkurang ya, melainkan bertambah. Ya, itu lah ni’matnya berbagi.
      Untuk para remaja  yang senang berkumpul dengan temannya di malam hari, tentu bisa melakukan hal ini. Lain halnya dengan golongan remaja yang lain dimana mereka pada malam hari harus selalu ada di rumah alias tidak boleh keluyuran. Ya, untuk kasus para remaja yang mendengarkan siaran tersebut secara bekolektif dimungkinkan jika mereka ada dalam satu ruang tinggal yang sama, misalnya seasrama, satu kostan, atau mungkin lagi acara nginep-nginep ria. Dan untuk yang tidak melakukan hal itu, atau yang hanya bisa mendengarkan di rumah tanpa ditemani teman sepermainan, biasanya mereka akan meminta saudara mereka untuk menemaninya. Misalnya, kakaknya atau sepupunya. tapi kayanya mereka ga nyampe minta ditemenin mama papa nya. Kalau hal itu terjadi, ya siap-siap aja dapat ceramah gratis . Tak heran kalau yang diandalkan selalu saudara mereka. Ya, mungkin karena mereka umurnya tidak terlalu jauh dengan selera yang tidak terlalu jauh pula. Alhasil, ngeklop deh ngedengerin siaran yang begitu bareng-bareng.

     Ya, begitu lah para remaja yang menyukai hal-hal baru dan ingin mencoba hal baru  tersebut dalam hidupnya, baik itu secara personal maupun kolektif. 

Selasa, 12 Mei 2015

Error moment
“Hari ini tanggal 7 ya?” tanya ku dalam hati pada diriku sendiri. waaaaaah, hari ini hari ulang tahun ku ternyata.  “sanah helwah, yay. Barakallah.....!!!!” . aku masih melihat diriku sendiri di cermin. Aku pun tersenyum. “21 ya??? Udah kaya bioskop aja” kataku sambil tertawa. Untungnya, teman-teman di kamar ku masih tidur pulas, Mungkin mereka sedang bermimpi menjelajahi dunia, menyebrangi sungai-sungai, melewati gunung, berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lainnya. Padahal,  kenyataannya mereka sedang  membuat pulau kepunyaan mereka sendiri alias ngiler. Ok, lupakan mereka yang pulaunya sudah kian meluas saja. Aku kembali pada diriku di depan cermin yang diapit oleh dua jendela di kamar sa’diyah. Aku kembali tersenyum. “21 tahun yang lalu, ibuku melahirkan ku dengan penuh perjuangan. 21 tahun yang lalu, ayah ku juga turut berjuang dalam proses kelahiran ku. 21 tahun yang lalu, semua kakak-kakak ku turut disibukkan dengan proses kelahiran ku. 21 tahun yang lalu, keluarga ku larut dalam kecemasan, kesedihan, keharuan, dan kebahagiaan menyammbut kedatangan ku ke dunia ini. aku yang tak mengerti apa-apa waktu itu, hanya bisa menangis. Ibu, ayah, kakak, dan keluarga ku yang lain tersenyum merekah sabil meneteskan air mata”. Ya, kira-kira seperti itu lah aku membayangkan kondisi keluarga di kala menyambut kelahiranku. Walaupun aku juga ga tau sih persis nya kaya gimana. Tapi, ya asumsikan saja seperti itu. akku kembali termenung, sambil melihat diriku di cermin. “21 tahun yay, 21 meeeen. Tua banget deh. Rasanya baru kemarin masuk kuliah, terus baru kemarin kemarinnya lagi masuk SMA, terus baru kemarin kemarin kemarinnya lagi masuk SMP, dan rasanya baru kemarin kemarin kemarin kemarinnya lagi masuk SD”. Duh, kebanyakan kemarinnya,pusing deh. Hehehe. ini kan lagi momen sedih muhasabah diri, malah kaya gini.
       “21 tahun, bukan waktu yang sebentar, tapiiiiiii belum banyak yang bisa ku lakukan” kataku sambil mengehela nafas. Kulihat jam di atas  cermin sudah menunjukkan pukul 03.30, aku pun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. #beerasa rajin. Padahal biasanya ke kamar mamndi jam segitu cuman buat pipis doang, terus tidur lagi. Tapi hari ini, rasa malas harus dilawan sekuat tenaga. Di kamar, teman-teman ku masih belum bergerak. Aku pun segera menggelar sajadah panjang, kemudian aku mulai mengucapkan “allahu akbar”. Sudah lama aku tidak mencurahkan semua unek-unek ku pada waktu seperti ini. aku mulai mengingat satu persatu kejadian yang pernah kualami dalam perjalanan hidup ku selama 21 tahun ini. walaupun tidak semua kejadian diingat dengan baik oleh ku, tapi ku coba untuk mengambil hikmah dari semua kejadian yang telah kualami. Sedih, senang, memalukan, menyebalkan,  dan banyak varian rasa lainnya.
      Ya Allah, maaf kan hamba Mu ini yang selalu melupakan mu, mengingatmu hanya di kala aku terpuruk dan tidak ada orang yang mau berbagi pundaknya untuk membantu ku melawan segala keterpurukan hiidup.  begitu banyak ni’mat yang Kau beri, tapi aku tidak sadar dan mendustakan ni’mat itu. maaf kan aku ya Allah... aku selalu menuntut agar segala kbeutuhan hidup ku terpenuhi bahkan lebih , tapi jarang sekali aku memperhatikan kewajiban yang seharusnya aku penuhi terlebih dahulu. Ibu, maafkan anak mu ini yang selalu menganggap mu bawel, cerewet, dan selalu mengatur. Padahal aku tahu, itu semua demi kebaikan ku. itu semua kau lakukan karena kau menyayangiku. Ayah, maafkan anak mu ini yang selalu menganggap mu galak, penuh dengan aturan, dan otoriter. Padahal aku tahu, semua yang kau lakukan semata-mata hanya karena kau peduli dan ingin menjaga ku agar kelak nanti aku tumbuh menjadi  wanita yang baik. Dengan status “anak bungsu” yang aku sandang, aku selalu bepikir bahwa aku selalu dieksploitasi oleh semua kakak ku. padahal, betapa aku selalu mengganggu mereka, sehingga waktu mereka tersita untuk menjaga ku ketika ayah dan ibu tak ada. untuk semua teman ku, maaf kan lah teman mu ini yang cuek, tak peduli, tapi sering merepotkan kalian dan meminta perhatian lebih dari kalian.
      Terima kasih ya Allah atas semua ni’mat yang Kau berikan pada Ku. walaupun terkadang aku sering mendustakannya. Terima kasih ya Allah, aku dilahirkan dan tumbuh besar dalam keluarga yang selalu mengajari dan mengingatkan ku untuk selalu mengingat Mu. keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan 5 orang kakak.  Terima kasih untuk ayah  yang selalu berjuang keras untuk mencari nafkah,  dan menjadi imam yang  baik bagi keluarga kami. Begitupun dengan ibu, yang selalu berusaha  menjadi ibu yang baik dalam merawat dan membesarkan kami dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. 5 orang kakak dengan sifat dan karakter yang berbeda-beda, tapi mereka dengan ikhlasnya membagi  apa saja yang mereka punya untuk ku. terima kasih juga untuk semua teman ku, yang dengan kuat masih dapat bertahan dengan segala kekurangan dan kelebihan ku. terima kasih, kalian telah mewarnai hidup ku. terima kasih untuk  semuanya.
      Tanpa ku sadari tetes demi tetes air mata pun jatuh. Pipi ku sudah basah dibanjiri dengan air mata. Air dari hidung pun tak mau kalah untuk keluar dari sarangnya. Aku pun perlahan mengusap air mata yang tak kunjung berhenti jatuh dari sumbernya. Di saat momen sedih seperti ini, tiba-tiba saja teman ku yang bernama Milah masuk ke kamar. Dia baru saja dari kamar mandi, dan hendak mengambil sesuatu atau entah lah, pokoknya dia masuk ke kamar dengan keadaan ku yang masih dibasahi air mata. Dan tanpa diduga, detik-detik terakhir dalam panjatan do’aku, tiba-tiba dia mendekatiku dan dengan polosnya dia bertanya “yay, lo nangis???”. Kemudian dia tertawa kecil dan bergegas keluar kamar sambil membawa suatu barang, entahlah barang itu apa, aku taksempat memperhatikannya. Aku hanya bisa diam membisu disudutkan dengan pertanyaan seperti olehnya. Aku pun mengakhiri do’aku dengan mengusap kedua tangan pada wajah ku. “hellllloooooooo, lo mikir ga sih???? Gue lagi bermuhasabah diri, memanjatkan do’a, dan meneteskan air mata, dan lo dengan polosnya nanya yang sebenernya itu tuh ga usah ditanyain. Udah jelas-jelas gue nangis, dan seharusnya lo ga ganggu momen di saat gue lagi asik-asiknya nangis. Dan udah jelas-jelas gue nangis yang sebener-benernya, dan lo malah memastikan apakah gue nangis atau engga lewat pertanyaan : lo nangis???”. heeeeeuuuuuuh keeseeeeeel. Baru nemu orang kaya gini. Ganggu momen aja deh tuh anak.  Jadi eror deh momen nya.


Minggu, 05 April 2015

Terlantarnya kaos kaki
    Ketenangan ku sedikit terusik dengan adanya sepasang kaos kaki  yang berada tepat di hadapan ku. kala itu, aku baru saja pulang kuliah, dan sejenak menenangkan hati dan pikiran ku yang sedang panas, akibat tuntutan akademik. Ya, begitulah, namanya juga mahasiswa, memang sudah seperti itu hukum alamnya. Tapi, pikiranku kembali terusik dengan melihat sepasang kaos kaki di hadapan ku. Aku hanya bisa menghela nafas. Aku juga tidak tahu siapa pemiliki kaos kaki ini yang tega menelantarkannya, sehingga lemah tak berdaya, dan hanya terbujur kaku di hadapanku.
     Aku tinggal di asrama bersama dengan puluhan orang lainnya yang awalnya kami tidak saling mengenal, namun sekarang , kalian tau apa yang terjadi? Kami jadi akrab satu sama lain, dan sudah tidak ada kata canggung lagi di antara kami. Ya, semua ini karena interaksi yang terus menerus, dan akhirnya kami jadi dekat. Aku menempati kamar sa’diyah dengan 4 orang lainnya sebagai penghuni kamar yang mungil ini. Aku harus terbiasa hidup dengan berbagai macam karakter orang di kamar ini. Ya, itulah konsekuensi tinggal di asrama. Tapi, aku menikmatinya. Hanya saja, kadang aku sedikit kesal dengan tingkah laku mereka yang tidak membuat ku nyaman, seperti halnya dengan sepasang kos kaki ini.
      Aku memang tidak tahu siapa pemilik dari kaos kaki ini, tapi satu fakta yang aku yakini kebenarannya adalah “pemiliknya pasti penghuni kamar sa’diyah”. Ya, jelas saja aku berpikiran seperti itu, mana mungkin penghuni kamar sebelah yang menelantarkan kaoskakinya di sini?. Dan kecurigaan ku jatuh kepada Mila dan Rifta. Kenapa begitu? Aku akan menjelaskannya dalam poin-poin berikut:
1.    Kamar sa’diyah dihuni oleh 5 orang, yaitu Asih, Lani, Mila, Rifta, dan aku.
2.    Pelaku kejadian ini bukan aku, karena aku yang merasa dirugikan dalam kasus ini.
3.    Pada saat kejadian kaos kaki terlantar, Lani sedang pulang alias tidak ada di asrama. Jadi bukan dia pelakunya.
4.    Asih bukan orang yang senang memakai kaos kaki, jelas ini bukan miliknya, dan dia bukan pelakunya.
5.    Yang dicurigai dalam kasus ini adalah Mila dan Rifta, karena mereka adalah tipe orang yang sering menggeletakan barangnya dimana saja, sesuka hati mereka, termasuk kaos kaki ini.
Dari ke lima poin tersebut, yang jadi pertanyaannya siapakah pemilik kaos kaki ini? apakah Mila atau Rifta? Ok, kita akan menulusurinya lebih lanjut.
      Mila dan Rifta merupakan tipe orang yang sama, mereka banyak memiliki kesamaan. Dan aku menyebut mereka dengan sebutan “si kembar”. Oleh karena itu, sulit untuk menentukan apakah pelakunya Mila atau Rifta? Keduanya memiliki peluang 50:50. Aaah rasanya suliit. Aku terus mencari jawaban dari kasus ini, dan aku menyimpulkan bahwa aku harus menunggu sampai  esok pagi, dan melihat dengan mata kepalaku sendiri “siapa yang memakai kaos kaki tersebut??”. Aku harus sedikit bersabar untuk mendapatkan jawaban yang akurat dari kasus ini.
     “Tepat pada hari ini, aku akan menyaksikan siapa yang memakai kaos kaki tersebut. Dan saat itu pula aku mengetahui siapa dalang dari semuanya”. Itulah yang terbesit di benakku, saat orang lain sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah. Dengan seksama, aku memperhatikan sekitar. Dan, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri orang yang memakai kaos kaki tersebut. Kalian tahu siapa pelakunya? Ya,seperti yang ku duga, Mila memakai kaos kaki yang tergeletak sembarangan. “dasar mila sang biang keladi” kataku dalam hati. Setelah dia memakai kaos kaki tersebut, dia pun berpamitan pada kami dan berangkat kuliah.

    Namun, ada suatu kejanggalan yang kurasakan.  Mila sudah memakai kaos kaki tersebut, tapi kenapa di pojokan masih ada kaos kaki? Tak lama kemudian, Rifta memakai kaos kaki tersebut dan berangkat kuliah. Ternyataaaaa, kaos kaki yang terlantar itu ada 2 pasang. Dan kaos kaki tersebut, masing-masing punya Mila dan Rifta. Ok, I know it. Ternyata, mereka berdua memang sama saja, sebelas dua belas ibaratnya. Dan, aku tahu dalang dari kasus ini adalah “si kembar” Mila dan Rifta. 

Selasa, 31 Maret 2015

Uang bersolasiban
 “heeeeeyyy, ada yang mau bayar pulsa????” teriak ku ke setiap kamar di asrama Al-Wafa. Tidak semua kamar  aku kunjungi, aku hanya mengunjungi kamar-kamar yang penghuninya memiliki hutang pulsa padaku. Hahaha.  Malam itu, yang jadi target operasi ku adalah kamar aisyah, ruqayah, halimah, dan fatmah. Bersiaplah para penghuni kamar-kamar tersebut, kalian akan dikunjungi bandar pulsa seperti aku. Hahahaha. Aku melangkahkan kaki ku ke kamar aisyah yang tepat berada disamping kamarku. Seperti biasa, aku pun menanyakan orang yang ku tuju, tapi sayangnya dia tidak ada. aku pun melanjutkan perjalanan ku ke kamar ruqayah, dan ternyata orang yang bersangkutan sudah tidur. aku tidak boleh patah semangat dalam melakukan target operasi kali ini. dan taret selanjutnya adalah kamar halimah. Orang yang bersangkutan ada, dan dia juga merespon baik akan kedatanganku ke kamarnya. Akhirnyaaaa, ada yang mau bayar juga. yeaaah.
     Dia pun mengeluarkan uang lembaran senilai 10.000. dengan cekatan aku menyambar uang itu, dan segera memeriksa  dompetku mencari uang untuk kembalian. Ahaaaa, ketemu. Eh, tunggu, kurang gope ternyata. Aku menyerahkan uang selembar bernilai 2.000, dan uang receh 500 sebanyak dua koin, sambil berkata “eh, ini kurang gope kembaliannya. Nanti yaaa!!!”. Dia segera mengambil uang kembalian tersebut, tanpa berkata apa-apa.  Dia terus bercakap-cakap dengan orang i seberang telepon sana.  Tak lama kemudian, sebelum aku meninggalkan kamar halimah, ia pun merengek memanggilku. Dia tidak mau menerima uang lembaran 2.000 tersebut. Kebingungan pun muncul, ketika ia berskap seperti itu. “kembaliannya nanti aja, aku ga mau uang kaya gitu”. Semaki n bingung, dan aneh aku melihat sikapnya yang seperti itu. Sambil menilik-niliki uang tersebut, aku pun bertanya “maksudnya apa? kalau kamu tidak mau uang seperti ini, lantas kamu menginginkan uang seperti apa? receh? Uang seribuan? Atau bagaimana?” aku mencercanya dengan pernyataan seperti itu. dia masih setia dengan handphone yang ditempelkan ke telinganya,”aku ga mau uang kaya gitu. Ga mau pokonya”. “terus kamu mau uang kaya gimana?” tanya ku dengan sedikit kesal. “aku ga mau uang itu, ada solasibannya. Pengen yang biasa aja. Kalau uang yang kaya gitu, susah. Nanti aja, kalau udah ada ke sini lagi” rengeknya kembali padaku.  Mendengar penjelasannya tersebut, aku langsung memperhatikan uang tersebut. Ya, memang uangnya *sedikit kucel, lecek, dan bersolasiban.  Aku hanya bisa menghel nafas sambil pergi meninggalkan kamar tersebut. 

     Aku masih tak habis pikir, kenapa harus mempermasalahkan uang yang sudah kucel, lecek, kotor, jelek, dan bersolasiban? Toh nilainya sama seperti uang yang lain, walaupun penampilannya tidak seindah yang lain. Toh dengan uang seperti itu, kita juga akan mendapatkan barang yang senilai dengan uang tersebut ko. Entahlah, mungkin dia orang yang sangat rapi, sampai memperhatikan uang kembalian yang ia dapatkan dari orang lain. Dan aku adalah kebalikan dari orang tersebut, yang tidak memperhatikan sampai hal sekecil itu. dengan mudahnya aku meberikan uang lecek, kucel, dan bersolasiban itu kepada orang yang tidak suka menerimanya.huuuuh. yang harus aku lakukan sekarang adalah mencari uang pengganti uang kucel, lecek, bersolasibant ersebut dengan uang yang sangat sedap dipandang.

Kamis, 08 Mei 2014

Efek asrama
  Ibu pernah bilang pas aku lahir itu berat badan ku hampir 4kg. Ibu aja pas ngelahirin aku susah soalnya aku nya terlalu besar. Intinya ketika lahir aku tuh gemuk. Entah sejak kapan aku berubah jadi kurus kerontang begini, dan entah karena apa aku diibaratkan lidi, yaa walaupun aku juga tidak terlalu tinggi. Yang aku inget sih, pas aku masuk SD juga aku udah kurus. Pas kelas berapa ya?? Kalau ga salah kelas 5 SD. Waktu itu kan ceritanya ada penimbangan berat badan gitu di sekolah, semua anak-anak ngantri untuk ditimbang. Termasuk aku. Dan hasilnya???? Berat badan ku  25kg. Entah aku harus bahagia atau sedih. Aku juga tidak tahu apakah angka 25 kg itu kekurusan atau normal-normal saja. Entahlah. Yang jelas waktu itu aku tahu berat badan ku ketika menjelang tahun-tahun terakhir di SD adalah 25kg.
     Banyak yang bilang kurus, yaa itu emang bener siiih. “Ibu, ko aku kurus siih?” “gimana ga kurus kamu tuh jarang makan nasi ” ibu teriak-teriak menjawab pertanyaan ku. Trus ibu ngomong lagi “kamu tuh ya makan cuman satu kali, apalagi dulu pas kecil ga mau makan nasi”. Aku sih santei aja nanggepin omongin ibu itu, udah sering sih jadi udah kebal. Hhahaha. Lagian itu cerita udah sering aku denger kalau aku lagi males makan, pasti aku diceramahin pake cerita itu. Kamu tuh dulu ga mau makan nasi, bla bla bla. Sambil komat-kamit ga jelas ngedengerin omelan ibu, aku matiin aja tv nya dan pindah lahan ke kamar ku tercinta. Malah katanya ya kalau aku mudik ke rumah kampung halaman, kakek tuh suka nanya-nanyain perkembangan ku. Aku kira perkembangan apa gitu, aku kira kakek suka nanyain aku udah bisa apa atau apa gitu, eeeeh ternyata pertanyaan yang sering dilontarkan kakek pada ibu adalah “najwa udah bisa makan nasi???”. Apa banget sih kakek, padahalkan dengan seiring berjalannya waktu aku  juga bakalan makan nasi. Mungkin pas aku kecil itu, aku lebih suka jajan ketimbang makan nasi, jadi gitu deh. Mungkin kalau kakek masih ada beliau bisa liat gimana aku makan nasi. Tenang aja ke, cucu mu disini sudah menjadikan nasi sebagai makanan pokoknya sehari-hari.
     Sampai akhirnya aku menginjak bangku SMP, dan tahu apa yang terjadi? Tetap saja akku berada dalam keadaan kurus kering kerontang. Mungkin aku kurang makan ya? Padahal orang tua ku gak terlalu kekurangan untuk ngasih aku makan. Padahal ibu aku badannya gede. Ya, walaupun katanya pas sebelum menikah ibu juga badannya kecil, sekarang aja badannya gede ga tau kenapa. Mungkin bahagia bisa punya anak seperti aku. Hahaha. Emang sih aku jarang makan, sukanya jajan, apapun itu yang penting jajan. Mungkin nanti aku akan mendapaptkan gelar miss jajan. *sepertinya itu berlebihan*. Dan ketika aku duduk di bangku SMP, guru olahraga ku adalah gurunya ibu ngaji. Jadi, bisa disimpulkan setidaknya ibu suka cerita tentang kebiasaan ku di rumah entah itu yang baik maupun yang buruk, dan sepertinya kebanyakan yang buruk, karena mungkin ibu bingung kalau harus nyeritain yang baik dari diriku, ya maklum lah yang keliatannya cuman yang jelek-jelek. Pas pelajaran olahraga, aku sempet diomeiin sama guru ku yang satu itu yang sepertinya sangat sayang padaku, karena beliau sering ngomelin aku. Ketika aku mengumpulkan tugas ke mejanya, tiba-tiba aku disemprot dengan kata-kata yang lumayan panjang, sehingga kata-kata itu susah untuk aku cerna, dan akhirnya malah aku keluarkan kata-kata itu dari telingaku. Oooow... maaf pak. Intinya, yang dapat aku cerna dari nasehat bapak guruku itu adalah :
1.      Najwa harus banyak makan, supaya kebutuhan makanannya terpenuhi.
2.      Najwa jangan bnayak jajan. Jajan sebanyak apapun akan susah membuat mu kenyang.
3.      Najwa harus banyak makan sayuran dan buah-buahan, supaya kebutuhan vitaminnya terpenuhi.
     Aku sih hanya menganggukkan kepalaku saat dinasehati oleh beliau. Tapi hasilnya??? “nothing”. Tetep aja kelakuan ku ga berubah, makan susah, jajan tak terlupakan, makan sayuran pikir-pikir dulu. Alhasil, tetep aja badan aku kurus.
     Sampai akhirnya aku tiba di masa putih abu-abu. Dan pada masa itu, aku tidak tinggal di rumah. Bukan karena aku diusir dari rumah, gara-gara aku nakal, bukan juga karena aku sudah tidak dianggap menjadi bagian dari keluargaku. Bukan karena itu. Kluarga harmonis, dan baik-baik saja. Sesuai dengan hasil rapat keluarga, bahwa aku akan bersekolah di tempat yang jauh dari rumah. dan hal itu mengakibatkan aku tidak mungkin lagi tinggal di rumah. Dan memang setiap siswa yang bersekolah disana, diwajibkan untuk tinggal di asrama yangtelah disediakan.
     Kurasa itu tidak terlalu buruk. Dan ternyata kehidupan di asrama sangat berbeda dengan kehidupan di rumah. di rumah aku bisa bersantai ria sambil menonton tv, ngemil seenaknya, masuk keluar kamar mandi semau-gue, dan banyak lagi kesenangan lainnya. Tapi, di asrama hal itu berubah. Tidak ada tv, tidak ada hp, berbagi kamar mandi dengan teman yang lain, dan makanan pun kita harus berbagi. Aku jadi menyadari betapa ni’matnya kehidupan rumah, yang bahkan aku tidak menyadari hal itu. Aku baru sadar, ketika aku merasakan tinggal di tempat lain.
     Seperti yang ku bilang, tinggal di asrama tidak terlalu buruk. Ada satu hikmah yang sangat aku rasakan ketika aku tinggal di asrama. Jika biasanya di rumah makanan selalu tersedia, dan bisa dimakan kapan saja. Tapi di asrama tidak. Aku selalu merasa lapar, dan ketika lapar, aku langsung mengambil jatah makan ku yang sudah disediakan untuk dua kali makan. yang biasanya aku makan hanya sekali, sekarang aku terbiasa makan dua kali sehari. Perubahan yang bagus. Dan hasilnya, taraaaaam berat badan ku naik. Hahhaha. Serasa memenangkan sebuah pertandingan. Ya, setidaknya badan ku tidak terlalu kurus kerontang seperti dulu. Orang-orang pun menyadari hal itu. Ketika aku pulang ke rumah, ayah dan ibu serta kakak-kakak ku bilang bahwa aku gemukan setelah tinggal di asrama. Hahaha. Bahkan saudara-saudara ku yang lain juga bilang hal yang serupa, ketika bertemu dengan ku. Haaah,efek asrama katanya begitu.


Kamis, 03 April 2014

Dingin

Kini dia berubah
Bagaikan air yang membeku
Berubah menjadi es
Es yang dingin dan keras
Entah apa yang terjadi?
Dulu dia sehangat wedang jahe
Sekarang dia menjadi es batu
Keras, beku tak mengalir tak hangat
Aku tak mengerti
Senyum nya kini telah tiada
Canda nya kini telah sirna
Hilang, ditelan bumi
Tak tersisa apapun
Sungguh mudahnya dia berubah
Berubah dalam sekejap mata
Tanpa ada angin dan hujan
Dan entah kapan ia akan kembali